Kisah Muslih, Penjual Dawet Ayu Asli Banjarnegara yang Merawat Tradisi Kuliner

SEGAR: Muslih, penjual es Dawet Ayu asli Banjarnegara saat melayani pembeli, Rabu (24/6/2026). (FAJAR ARI WIBOWO/JOGLO JATENG)

BANJARNEGARA, Joglo Jateng – Di tengah gempuran tren minuman modern, aroma wangi pandan asli dari sebuah lapak sederhana di dekat masjid Banjarnegara seolah menjadi penawar dahaga yang tak lekang oleh waktu.

Di balik pikulan itu, ada Muslih, seorang pria yang memilih jalan mandiri untuk merawat warisan kuliner tanah kelahirannya.

Dawet Ayu Banjarnegara merupakan minuman tradisional berbahan dasar tepung beras yang diberi pewarna alami daun suji dan pandan, disiram santan gurih, serta pemanis alami dari gula merah kental. Keaslian rasa inilah yang dijaga ketat oleh Muslih.

Perjalanan Muslih meracik dawet justru dimulai di tanah perantauan, Binjai, Sumatra Utara, sekitar belasan tahun lalu.

“Saya belajar dari sana. Dulu ikut orang berjualan dawet di sana. Sekitar 2009-2010,” tuturnya.

Sempat berganti-ganti pekerjaan kasar, dia akhirnya memutuskan pulang ke kampung halaman demi merawat orang tuanya yang lansia sekaligus membuka usaha sendiri.

Menurutnya, kunci kelezatan dawetnya terletak pada kesegaran bahan. Untuk menghasilkan warna hijau dan aroma yang memikat, ia menggunakan daun pandan pilihan. “Itu pandan yang sudah agak tua lalu diiris dan diblender,” jelasnya.

Bagi Muslih, dawet bukan hanya komoditas dagang, melainkan identitas daerah yang melekat kuat. Perbedaan mendasar terletak pada keaslian pembuatnya yang memengaruhi cita rasa autentik khas daerah tersebut.

Ia berjualan di depan Masjid Rachmat Al-Aliim, Parakancanggah, Banjarnegara mulai pukul 09.30 WIB hingga 16.00 WIB. Muslih tidak muluk-muluk mengejar omzet, segelas dawetnya dibanderol dengan harga Rp 5 ribu.