Letak lapaknya yang strategis di dekat masjid membuatnya menggantungkan harapan pada para pelancong atau musafir.
“Saya membawa paling banyak 30 gelas. Itu saja tidak pasti habis, kadang habis 15-20 gelas sehari sudah alhamdulillah,” syukurnya.
Meski sempat diminta aparat untuk pindah ke lokasi bawah yang dirasanya terlalu berisiko karena lalu lalang kendaraan yang cepat, Muslih memilih bertahan di tempatnya demi keselamatan.
Menjadi bos bagi diri sendiri memberinya kedamaian batin yang tidak ia dapatkan saat ikut orang lain.
Ada beberapa versi cerita rakyat mengenai penamaan Dawet Ayu. Salah satu versi populer menyebutkan bahwa dahulu ada pedagang dawet bernama Munardjo di Banjarnegara yang memiliki istri berwajah sangat cantik (ayu).
Pelanggan pun akhirnya terbiasa menyebut dagangan mereka sebagai “Dawet Ayu”.
Nama ini semakin mendunia sejak tahun 1980-an berkat lagu daerah berjudul sama dan banyaknya perantau Banjarnegara yang sukses menjualnya di kota-kota besar. (cr1/ree/rds)










