Siswa MTs N 10 Sleman Sulap Sampah Jadi Barang Bernilai Seni

KREATIF: Siswa MTsN 10 Sleman memanfaatkan aneka limbah dan sampah untuk kerajinan dan dipamerkan dalam Gelar Karya di Sekolah, belum lama ini. (DOK PRIBADI/ JOGLO JOGJA)

JIKA biasanya sampah botol plastik hanya berakhir di tempat sampah, maka lain halnya dengan sampah-sampah botol plastik yang satu ini. Sampah plastik tersebut, justru disulap menjadi barang kerajinan bernilai seni yang bisa dipajang di ruang tamu, di ruang keluarga, di meja kerja, atau bahkan kamar tidur.

Di tangan siswa-siswi MTs Negeri 10 Sleman, aneka limbah dan sampah dirubah menjadi karya yang menarik. Lalu, karya tersebut dipamerkan melalui 16 stand pada gelaran Gelaran Karya di lingkungan sekolahnya. Adanya pameran tersebut, sebagai wujud apresiasi terhadap karya para siswa.

Berbagai karya dari sampah itu, sebagai salah satu implementasi Kurikulum Merdeka Belajar, Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) bagi jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs). Kali ini sekolah mengambil tema Gaya Hidup Berkelanjutan dengan subtema Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Koordinator acara Ratna Fitriana mengatakan, Gelar Karya baru pertama kali digelar di sekolahnya. Tampak antusiasisme para siswa cukup tinggi, hal itu dibuktikan dengan kreativitas yang dibuat para siswa kelas tujuh dengan memanfaatkan sampah.

“Dalam proses pengerjaan karya, kami juga berpesan kepada sesama dalam berkreasi mengolah sampah, jangan sampai malah menimbulkan masalah sampah baru,” terangnya di sekolahnya, Senin (4/9).

Aneka karya para siswa ditata secara berkelompok melalui stand masing-masing. Karya dari sampah terdiri dari kategori organik seperti lilin dan sabun dari minyak jelantah.

Sedangkan karya sampah anorganik berupa tong sampah, aneka hiasan dan mainan. Selain itu juga ada yang berhasil membuat desain canting cat dan dipraktikkan menjadi kain batik bermotif sangat indah.

“Saya bangga, anak-anak telah mewujudkan cinta lingkungan dengan kreativitas dari sampah. Terima kasih kepada semua pihak yang telah bekolaborasi mewujudkan kreasi yang luar biasa,” ucapnya.

Sementara itu, Koordinator Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin (P5P2RA) Ika Damayanti mengatakan, kegiatan yang dilakukan secara maraton berhasil diselesaikan dengan baik. Selama dua minggu dilakukan sosialisasi, orientasi, kontekstualisasi, implementasi, evaluasi, dan refleksi.

“Ini, tentu berkat antusiasisme dan kerjasama semua pihak, alhamdulillah kegiatan berjalan lancar,” tuturnya.

Lebih lanjut, Ia menyebut, gelar karya menjadi upaya sekolah untuk memberikan apresiasi kepada siswa yang telah mampu melaksanakan tugas membuat kreatifitas dan inovasi yang mereka miliki. Sehingga, saat dipamerkan siswa yang lain juga bisa melihat seluruh karya siswa yang dihasilkan dari limbah dan sampah itu.

”Ke depan siswa diharapkan lebih bisa peduli terhadap lingkungan sekitar. Selain itu, tentunya di waktu yang akan datang nanti, barang seperti botol bekas ketika dijadikan kratifitas yang sangat bagus juga akan bisa bernilai ekonomis,” pungkasnya. (bam/all)