Bangkitkan Semangat Gotong Royong melalui Padat Karya

JELASKAN: Sub Koordinator Perluasan Kesempatan Kerja Disnakertrans Bantul Sakirah saat menyosialisasikan padat karya di Dusun Mulekan II, Desa Tirtosari, Kecamatan Kretek, belum lama ini. (DOK.PRIBADI/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Bantul menyosialisasikan program padat karya, yang akan berlangsung pada Oktober mendatang. Hal itu dilakukan, guna memberikan gambaran teknis pada masyarakat mengenai proyek yang akan dikerjakan tersebut.

Kepala Disnakertrans Bantul Istirul Widilastuti, S.IP, MPA melalui Sub Koordinator Perluasan Kesempatan Kerja Disnakertrans Bantul Sakirah, SH, M.Ec.Dev. mengatakan, sosialisasi ini bertujuan untuk menjelaskan padat karya. Baik itu pengertian program, cara pelaksanaan, dan aturan-aturan yang harus ditaati.

“Sosialisasi sudah kami lakukan di beberapa titik, salah satunya di Dusun Mulekan II, Desa Tirtosari, Kecamatan Kretek. Nantinya ada enam lokasi pengerjaan padat karya yang akan berlangsung pada 2-21 Oktober mendatang,” ucapnya.

Adapun enam titik tersebut, yakni di Dusun Kadirejo, Desa Palbapang, Kecamatan Bantul, Dusun Jayan, Desa Canden, Kecamatan Jetis; dan Dusun Greges, Desa Donotirto, Kecamatan Kretek. Kemudian, Dusun Mulekan II, Desa Tirtosari, Kecamatan Kretek; Dusun Kergan, Desa Tirtomulyo, Kecamatan Kretek; dan Dusun Jambewangi, Desa Temuwuh, Kecamatan Dlingo.

Untuk anggaran yang dikeluarkan, kata Istirul Widilastuti, masing-masing lokasi mendapat Rp 100 juta. Kecuali di Dusun Kadirejo, Desa Palbapang, Kecamatan Bantul, menjadi titik yang memiliki alokasi anggaran berbeda dan terbesar, yakni Rp 200 juta.

“Sosialisasi yang kami lakukan ke masyarakat, untuk memberikan informasi mengenai hak-hak yang akan mereka terima. Serta didaftarkan BPJS ketenagakerjaan. Hal itu sangat penting sebagai upaya memberikan kenyamanan pada warga yang bekerja nantinya,” ujar dia.

Ia berpesan, agar jangan sampai ada masyarakat yang merasa tidak nyaman dalam pengerjaan padat karya. Meskipun infrastruktur itu penting bagi mereka, tapi keselamatan harus tetap diutamakan. Sehingga, jaminan kesehatan itu wajib hukumnya.

“Semua lokasi sasaran program padat karya akan dilakukan sosialisasi terlebih dahulu. Dengan demikian masyarakat mengetahui di wilayah tersebut akan diadakan program padat karya. Yaitu pembangun infrastruktur jalan desa,” tuturnya.

Istirul Widilastuti menambahkan, padat karya tidak boleh dipihakketigakan. Melainkan hanya diperuntukkan bagi warga sekitar dengan harapan meningkatkan semangat gotong royong. Serta untuk menyerap tenaga kerja, baik pengangguran, yang belum mendapatkan pekerjaan, dan warga miskin.

“Selain mendapatkan infrastruktur mereka juga mendapatkan pekerjaan. Harapannya masyarakat paham, jadi tidak menganggap pekerjaan selesai karena dipihak ketigakan. Kita sampaikan agar itu dikerjakan secara mandiri oleh masyarakat,” pungkasnya. (cr13/sam/mg4)