JEPARA, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mengusulkan horog-horog jadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Langkahnya dengan menggelar Festival Kuliner Tradisional Jepara, akhir pekan lalu.
Agenda yang diselenggarakan di Museum R.A Kartini Jepara, kuliner tradisional Jepara itu disajikan secara variatif. Semua hidangan berbahan horog-horog unjuk gigi di Festival Kuliner Tradisional.
Adapun peserta kontes horog-horog ini, diikuti kalangan ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dari berbagai Kecamatan di Jepara. Mereka menciptakan menu olahan horog-horog dengan variatable.
Makanan dari tepung aren ini, dengan tangan ajaib ibu-ibu PKK disulap menjadi makanan variatble, sehat dan bergizi. Hasilnya, tidak cuma campuran bakso atau pecel, melainkan juga dessert dan minuman.
Seperti halnya, salad horog-horog (Kecamatan Batealit). Kue lupis dan ayam suir horog-horog (Pakis Aji). Burger horog–horog dan prol terog (Nalumsari). Karimunjawa menyajikan kerang dan ayam bakar horog-horog.
Kemudian, agar-agar horog-horog (Donorojo), sayur umbut rotan (Keling), ongol-ongol dan dawet horog-horog (Bangsri). Lalu bongko mendut (Mayong), horog-horog jeli (Pacangaan), lapis horog-horog (Kalinyamatan).
Tidak hanya itu, juga rujak horog-horog (Kedung), horog-horog saus ikan kuning dan talam pandan nangka (Jepara). Terakhir dari Karimunjawa, minumannya teler hirog (susu santan, durian, dan horog-horog).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara, Mustakim menyampaikan, kegiatan ini sebagai pengembangan kuliner khas Jepara. Yakni untuk menuju tingkat nasional.
“Horog-horog punya potensi yang luar biasa. Kami tidak menemukan horog-horog di luar Jepara. Untuk itu, kami berupaya mengangkat kuliner ini ke kancah nasional lewat usulan WBTB 2024,” pungkas Mustakim, Minggu (12/11/23). (cr2/fat)










