JEPARA, Joglo Jateng – Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, memiliki potensi lahan kopi lebih dari 352 hektare. Mayoritas penduduknya dengan jumlah sekitar 3.600 jiwa menggantungkan hidup dari hasil kopi.
Namun, tidak banyak perempuan yang terlibat langsung sebagai petani kopi dari proses penanaman hingga pemasaran. Sebagian besar hanya membantu pekerjaan suami saat musim panen tiba.
Di tengah kondisi tersebut, sosok Puji Astuti (48), warga Dukuh Duplak, menjadi salah satu perempuan yang memilih turun langsung menjadi petani dan mengelola kebun kopi miliknya.
Selama 15 tahun, ia menghabiskan hari-harinya di ladang, mulai dari menanam, merawat, hingga memanen kopi.
Puji mulai serius menekuni pertanian kopi pada 2015. Berawal dari keinginan memperbaiki taraf hidup keluarga, ia mengubah lahan sawah dan tegalan warisan orang tuanya seluas sekitar satu hektare menjadi kebun kopi.
Dari hasil beternak, ia kembali membeli lahan sekitar satu hektare untuk ditanami kopi.
“Saya ingin mencoba mengubah nasib lewat kopi. Awalnya ya hanya angan-angan, semoga bisa panen 10 sak. Dan alhamdulillah sekarang bisa panen sampai 200 sak,” ceritanya saat ditemui di kediamannya, Rabu (10/6/2026).
Perjalanan Puji tidak instan. Setelah bibit ditanam, ia harus menunggu sekitar dua tahun untuk memperbanyak tanaman melalui stek. Buah kopi pertama baru muncul pada tahun ketiga, sementara produksi yang melimpah baru dirasakan pada tahun keempat.
Selama menunggu masa panen, lahan tidak dibiarkan kosong. Puji menanam pisang dan cabai sebagai sumber penghasilan tambahan.
“Sambil nunggu kopi panen, tak tanami juga sama pisang dan cabai. Ada juga tomat. Pupuk tanamannya pakai organik,” ujarnya.
Hampir seluruh pekerjaan di kebun ia jalani bersama suaminya. Mulai dari membersihkan tanaman, memangkas, menjaga dari hama, hingga panen.










