6 Warga Meninggal Akibat Leptospirosis

TELITI: BBTKLPP bersama Dinkes Sleman dan Puskesmas Prambanan melaksanakan kegiatan Surveilans faktor risiko Leptospirosis di desa Madurejo, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA/ JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus mewaspadai peningkatan kasus leptospirosis di wilayahnya. Hal itu, dilakukan lantaran, sampai September 2023 masih ada enam warga yang meninggal karena leptospirosis.

Berdasarkan, data yang dihimpun Dinkes Sleman, pihaknya mencatat hingga September 2023 ada 58 kasus leptospirosis. Dari jumlah tersebut ada enam warga meninggal dunia karena penyakit yang biasa mengancam para petani. Adapun dari enam warga yang meninggal dunia tersebut di antaranya terjadi di Kapanewon Moyudan, Minggir, Sleman dan Ngemplak.

Sub Koordinator Kelompok Substansi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman, Seruni Angreni Susila mengatakan, meski saat ini angka kasus leptospirosis di wilayahnya mengalami penurunan pada beberapa bulan terakhir, pihaknya tetap mewaspadai adanya peningkatan kasus. Menurutnya, leptospirosis baru diketahui setelah penyitas melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan terdekat, seperti puskesmas dan rumah sakit.

“Memang tidak setinggi dibandingkan pada pertengahan tahun. Namun, kami tetap mewaspadai kemungkinan peningkatan kasus. Apalagi risiko kematian dari penyakit ini sangat tinggi,” terangnya di Sleman, Senin (20/11).

Lebih lanjut ia menyatakan, berdasarkan data yang ada, beberapa kapanewon yang rawan terhadap penyebaran kasus leptospirosis. Kawasan barat, ada Kapanewon Moyudan, Gamping dan Minggir, sedangkan di kawasan timur ada Kapanewon Prambanan, Kalasan dan Ngemplak. Sebab, di kawasan tersebut, terdapat lahan pertanian, dekat dengan aliran sungai, dan merupakan vektor penyebaran tikus.

“Sementara penyakit ini kan masuk masuk ke dalam tubuh manusia, lewat bekas luka dan genangan air yang terkontaminasi bakteri leptospira. Untuk itu kami minta petani dan warga untuk alat pelindung diri (APD) berupa boot atau sarung tangan karet ketika berkebun, ke sawah maupun ke kolam dan mencuci tangan dan kaksi dengan sabun setelah terkena kotoran,” paparnya.

Selain itu, Dinkes telah bekerja sama dengan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman untuk mencegah penyebaran leptospirosis. DP3 Sleman mengintensifkan pemberantasan vektor tikus dengan mengoptimalkan keberadaan burung hantu.

“Karena keberadaan burung hantu ini efektif untuk mengurangi dan mencegah hama tikus,” tutupnya. (bam/all)