SLEMAN, Joglo Jogja – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mulai mewaspadai penyebaran penyakit Polio di wilayahnya. Hal itu, seiring temuan kasus di Manisrenggo, Klaten yang bahkan menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).
Kepala Dinkes Sleman Cahya Purnama mengatakan, upaya antisipasi dilakukan Dinkes Sleman dengan berencana menggelar Outbreak Response Immunization (ORI) atau pemberian imunisasi massal. Pasalnya imunisasi itu, akan diberikan di wilayah yang perbatasan dengan Klaten.
“Karena kita wilayah yang berbatasan langsung dengan Klaten kemungkinan akan dilakukan ORI di wilayah yang langsung berbatasan dengan klaten. Kami sudah bersurat ke Kemenkes dan Dinkes DIY terkait hal tersebut dan sedang dikaji oleh tim Ahli dari pusat,” terangnya, belum lama ini.
Tercatat ada satu pasien Polio yang sedang dirawat di RS Sardjito dan itu adalah pasien dari Manisrenggo, Klaten. Artinya, sejauh ini belum ada temuan kasus polio di Bumi Sembada.
Cahya menuturkan, cakupan imunisasi polio di Kabupaten Sleman sejauh ini sudah cukup tinggi yaitu lebih dari 95 persen. Adapun untuk Acute Flaccid Paralysis (AFP) rate di Sleman sudah 3/100.000 dalam dua tahun terakhir dan semua hasil pemeriksaannya negatif polio.
“Angka ini melebihi target nasional yang dipatok 2/100.000 untuk anak di bawah 15 tahun,” imbuhnya.
Terlebih, sejak tahun 2014, imunisasi polio di Sleman sudah menggunakan suntikan dengan Injeksi Polio Vaksin (IPV). Hal itu, berbeda dengan Kabupaten lain, yang masih menggunakan Oral Polio Vaksin (OPV) atau pemberian vaksin melalui tetes di mulut.
Pasalnya, pemberian imunisasi Polio dengan cara OPV dinilai beresiko karena OPV atau vaksin tetes polio itu bisa terpapar ke lingkungan lewat feses atau tinja. Sehingga menjadi virus polio liar di lapangan.
“Kalau di Sleman dan DIY sudah menggunakan IPV atau vaksin suntik polio sejak tahun 2007 sehingga dimungkinkan sudah tidak ada lagi virus polio liar di lingkungan, karena pakai vaksin suntik tidak lewat pencernaan atau lewat feses seperti yang vaksin polio tetes,” paparnya.
Lebih lanjut, Cahya mengimbau kepada orangtua yang sedang mempunyai anak kecil untuk mengikuti vaksinasi IPV sesuai program yang ditentukan. Dengan harapan, anak terbentuk kekebalan terhadap polio.
“Kemudian laksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan makan gizi seimbang serta segera ke faskes jika anak terjadi lumpuh layuh,” pintanya.
Terpisah, menanggapi hal itu, Wakil Ketua I DPRD Sleman, Arif Kurniawan berharap, pemkab melalui dinas Kesehatan terus siaga dan wasapada terhadap potensi penyebaran penyakit polio. Keberadaan kasus di Manirenggo, Klaten yang berbatasan dengan wilayah Sleman harus dijadikan pembelajaran sehingga tidak kecolongan alias terdapat kasus di Bumi Sembada.
“Harus ada Tindakan nyata untuk mengantisipasinya karena teknologi Kesehatan sudah sangat maju sehingga persebaran polio bisa diantisipasi dengan baik,” pungkasnya. (bam/all)










