Harga Ayam Melambung, DKUKMPP Bantul Sebut Permintaan Meningkat

POTONG: Salah satu penjual ayam di Bantul saat memotong ayam untuk pelanggan, belum lama ini. (JANIKA IRAWAN/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Harga ayam potong masih melambung tinggi, Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) berikan respons. Pihaknya menyebut kondisi ini dikarenakan pada saat bulan Ramadan, permintaan ayam potong memang cenderung meningkat dari bulan lainnya.

“Namanya puasa itu orang kepinginnya makan yang enak-enak. Baik itu daging ayam maupun daging sapi, kambing, atau hewan ternak lainnya,” ujar Kepala DKUKMPP Bantul, Agus Sulistiyana, Selasa (26/3/24).

Menurutnya, meningkatnya permintaan ayam potong ini memberikan dampak langsung pada melambungnya harga. Sehingga, kenaikan harga yang terjadi belakangan ini murni disebabkan oleh faktor hukum ekonomi. “Kita lihat, di bulan puasa ini kebutuhan untuk takjil itu sangat mempengaruhi tingginya permintaan. Maka dari itu, harga juga jadi ikut naik,” tambahnya.

Baca juga:  Kekeringan Mulai Melanda DIY, Dua Kapanewon di Gunungkidul Minta Bantuan Air Bersih

Selain itu, pihaknya juga menambahkan bahwa tingginya biaya produksi juga menjadi faktor penentu naiknya harga jual ayam potong. “Harga ayam meningkatkan ini juga karena biaya produksi untuk pemeliharaannya sudah tinggi. Harga bibitnya juga relatif tinggi. Kemudian biaya pakannya juga begitu,” terangnya.

Selain itu, dalam sisi lain, pihaknya juga menyoroti tentang minimnya pengusaha ayam potong di Bantul. Pihaknya berpendapat bahwa Bantul cukup padat penduduk, sehingga ruang untuk berusaha ayam sangat terbatas.

“Ayam potong itu juga tidak banyak di Bantul. Karena apa, kita itu padat penduduk, permukiman yang kosong tidak banyak yang bisa digunakan untuk budidaya ayam potong,” imbuhnya.

Baca juga:  Dewan Siapkan Rp12 Miliar, Atasi Masalah Sampah

Namun, ada beberapa kendala lain yang menyebabkan usaha ayam potong di Bantul ini menjadi terhambat. Di antaranya yakni penolakan dari masyarakat yang takut terkena dampak bau dari limbah kotoran ayam tersebut.

“Ini sebenarnya hal yang harus dilakukan Pemkab untuk disampaikan ke masyarakat bagaimana agar orang usaha itu bisa jalan tanpa ada hambatan. Dengan syarat tertentu, misalnya agar tidak bau, sehingga masyarakat tidak terganggu,” pungkasnya. (nik/abd)