Siswa MTsN 4 Bantul Telusuri Upacara Tradisi Cembengan

DISKUSI: Beberapa siswa dari MTsN 4 Bantul tengah berdiskusi dengan Penghulu setempat di kawasan Masjid An Nur, setelah Upacara Tradisi Cembengan, Rabu (24/4/24). (HUMAS/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Upacara Tradisi Cembengan yang berhubungan dengan musim penggilingan tebu di Pabrik Gula Madukismo telah menarik perhatian dengan segala keunikan yang ditampilkan dalam ritual tersebut. Acara tersebut tidak hanya mempertontonkan seni tradisional dan modern. Tetapi juga menghadirkan ritual kirab manten tebu yang menjadi daya tarik tersendiri.

“Sebelum pernikahan dilangsungkan, anak-anak diajak untuk mengarak pasangan tebu mengelilingi komplek pabrik. Meskipun cuacanya hujan, anak-anak tetap semangat melakukan riset untuk persiapan lomba,” ungkap Kepala MTsN 4 Bantul, Sugeng Muhari, Rabu (24/4/24).

Ia menambahkan, manten tebu atau dikenal sebagai pernikahan tebu adalah salah satu ritual yang memeriahkan Tradisi Cembengan. Pesta rakyat ini diadakan setahun sekali selama musim penggilingan tebu.

“Penentuan waktu pelaksanaan disesuaikan dengan kalender Jawa oleh sesepuh setempat. Bapak Penghulu setempat mengadakan akad nikah tebu di Masjid An Nur dengan mahar uang senilai Rp 4 ribu,” tuturnya.

Sugeng menambahkan, siswanya terlibat dalam riset untuk mendalami tradisi ini dengan dibimbing oleh Uun Nasikhun dan pendamping pengambilan data. Bersama salah satu guru, Lia Nur Faizah, penelitian dilakukan dengan menggunakan metode wawancara untuk mengumpulkan informasi.

“Siswa diajak untuk mempelajari tradisi lokal agar budaya Jawa tetap lestari bagi generasi mendatang untuk menjaga tradisi seperti Cembengan sebagai sejarah dan identitas budaya. Serta menjadi sarana untuk memperkenalkan nilai-nilai tradisional kepada generasi muda,” demikian kata Sugeng. (suf/adf)