Manfaatkan Eco Enzyme untuk Komposter

FOKUS: Terlihat seorang ibu rumah tangga sedang menuangkan molase sebagai bahan pembuat eco enzyme di Bantul, belum lama ini. (JANIKA IRAWAN/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat akan melakukan uji eco enzyme sebagai bahan komposter sampah organik. Uji coba ini rencananya akan terapkan di Intermediate Treatment Facility (ITF) Pasar Niten.

“Nanti kita akan uji coba untuk peningkatan efektivitas komposter di ITF pasar Niten. Nanti DLH akan mencoba menggunakan eco enzyme ini untuk campuran komposter, lalu kita bandingkan melalui uji laboratorium,” ungkap Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, belum lama ini.

Menurutnya, dari hasil uji coba itu nanti, jika memang menghasilkan perubahan yang signifikan, pihaknya akan membutuhkan eco enzyme dalam jumlah besar. Hal ini dikarenakan, jumlah sampah organik di Bantul menyentuh angka 70 persen dari total sampah timbulan. Selain itu, Bantul juga memiliki ribuan hektare lahan pertanian hortikultura maupun pangan.

Baca juga:  Tiga Kekerasan Terjadi di Bantul dalam Empat Hari

“Kalau itu nanti lebih efektif dan lebih efisien, kenapa tidak. Kalau ada manfaatnya yang nyata seperti ini, maka ini sekaligus akan membantu mengatasi problem sampah organik dan bisa juga untuk keperluan pupuk pertanian,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Eco Enzyme Nusantara Tsalis Siswanti menyampaikan, eco enzyme ini sudah ditemukan sejak 30 tahun lalu oleh ilmuwan asal Thailand, Dokter Rosukon Poompanvong. Sedangkan untuk masuknya ke Indonesia, menurutnya, sekitar empat tahun lalu.

Dia pun mengatakan, teknologi ini juga bisa dimanfaatkan ke beberapa sektor. Yaitu sektor kesehatan, lingkungan, pertanian, dan perikanan. Bahkan, eco enzyme ini juga diklaim mampu menanggulangi permasalahan limbah sampah organik rumah tangga.

Baca juga:  Akademisi Sebut Jogja Darurat Sampah

“Jadi eco enzyme ini bisa di aplikasikan untuk ke empat sektor itu. Dan manfaatnya bisa sudah terbukti,” katanya.

Dijelaskan bahwa pembuatan eco enzyme ini juga terbilang sangat mudah. Yaitu hanya memanfaatkan limbah buah, lalu difermentasi dengan air serta tambahan gula. “Eko enzim ini terbuat minimal 5 macam buah yang masih segar dan bersih, kemudian kita kasih pemanis dan air. Perbandingannya itu, satu gula, tiga bahan organik, sepuluh air. Lalu difermentasi selama tiga bulan” tandasnya. (nik/abd)