Religi  

Refleksi Sa’i, Filosofi Kekuatan Mental Seorang Muslim

H. Adi Bayu Nugroho, S.Pd.I, M.Pd
H. Adi Bayu Nugroho, S.Pd.I, M.Pd (DOK. PRIBADI/JOGLO JOGJA)

JEMAAH Haji saat ini secara bergantian kembali ke kampung halaman masing-masing. Sebagian besar pastilah membawa banyak oleh-oleh baik berupa makanan, suvenir, kisah lucu, dramatis hingga kisah-kisah yang meningkatkan iman. Bagi orang yang beriman, tentu sangat banyak nilai-nilai iman yang dapat diambil hikmah serta diimplementasikan dalam kehidupan.

Salah satu prosesi haji yang syarat makna adalah sa’i antara bukit Shafa dan Marwah dengan jarak sekitar 450 meter. Di balik sejarah sa’i, terkandung kisah keimanan dari seorang wanita bernama hajar yang ditinggalkan suaminya di tempat yang tidak ada sarana untuk hidup.

Dikisahkan setelah beberapa waktu dari lahirnya Ismail, anak yang telah lama diidam-idamkan. Allah memerintahkan Ibrahim pergi bersama Hajar dan Ismail ke Makkah, maka Nabi Ibrahim memenuhi perintah tersebut dan pergi mengajak keduanya ke Kota Makkah di area yang nantinya akan dibangun Kabah. Namun sesampainya Ibrahim bersama Hajar dan Ismail, tak lama kemudian Ibrahim meninggalkan Hajar beserta Ismail dan kembali ke Syam.

Atas sikap Ibrahim tersebut, Hajar mengejar Ibrahim seraya bertanya, “Wahai Ibrahim, kamu mau pergi ke mana? Apakah kamu (tega) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia dan tidak ada sesuatu apa pun ini?”. Hajar terus saja mengulang-ulang pertanyaannya berkali-kali hingga akhirnya Ibrahim tidak menoleh lagi kepadanya. Akhirnya Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan kamu atas semua ini?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Hajar berkata, “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.”

Baca juga:  Bulan Muharram dan Amalan di Dalamnya

Setelah meninggalkan Hajar dan putranya Ismail, Ibrahim seraya berdoa, “Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Sebagaimana seorang ibu pada umumnya, Hajar mulai menyusui Ismail dan minum dari air bekal yang dibawa, hingga tak terasa air persediaannya habis dan kehausan. Sang bayi Ismail pun meronta-ronta karena kehausan. Tak tega melihat kondisi tersebut, Hajar pergi meninggalkan Ismail dan mencari air.

Hajar mulai mendatangi bukit Shafa yang paling dekat lokasinya, lalu menghadap ke arah lembah berharap menemukan seseorang. Namun dia tidak melihat siapa pun, kemudian dia turun dari bukit Shafa dengan menyingsingkan ujung pakaiannya, lalu berusaha keras menuju bukit Marwah, lalu kembali berdiri di sana sambil memperhatikan situasi berharap menemukan seseorang.

Baca juga:  Membumikan Hikmah Iduladha di Sepanjang Kehidupan

Namun lagi-lagi Hajar tidak menemukan siapa pun di sana. Dia mengulang-ulangi melakukan hal tersebut sebanyak tujuh kali (antara bukit Shafa dan Marwah), yang kemudian peristiwa ini menjadi sejarah dari prosesi sa’i. Ibnu ‘Abbas RA mengatakan, “Dari sinilah orang-orang melakukan sa’i antara keduanya (Shafa dan Marwah).”

Setelah peristiwa itu, Hajar mendengarkan suara dan kemudian mendatangi anaknya Ismail. Betapa terkejutnya hajar ketika mengetahui bahwa terdapat air yang memancar di dekat kaki Ismail dan akhirnya Hajar dapat minum air dan menyusui anaknya kembali.

Kemudian malaikat berkata kepadanya, “Janganlah kamu takut diterlantarkan, karena di sini adalah rumah Allah, yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.” Air itulah yang kemudian hingga saat ini kita kenal dengan air zam-zam yang Allah sediakan bukan hanya untuk Hajar dan Ismail, namun untuk seluruh umat manusia.

Kisah yang menjadi latar belakang sejarah prosesi sa’i ini hikmahnya sangat relevan diimplementasikan seluruh kaum muslimin dalam kehidupannya. Nilai yang pertama dapat diambil adalah sikap tawakal dan berserah diri secara totalitas, memiliki keyakinan yang kuat bahwa Allah tidak akan menelantarkan hamba-hamba-Nya, meski dalam kondisi terberat sekalipun.

Baca juga:  Membumikan Hikmah Iduladha di Sepanjang Kehidupan

Yang kedua adalah sikap ketaatan sosok Hajar sebagai seorang istri dan hamba Allah yang ikhlas menaati perintah Allah dan suaminya. Dari sosok istri sekaligus ibu seperti inilah, tumbuh seorang anak yang Ikhlas dan Ridho dalam menerima perintah Allah, yaitu disembelih oleh ayahnya sendiri, Ibrahim.

Yang ketiga adalah dari kisah ini kita melihat bahwa kualitas fondasi keimanan yang kuat juga harus dibarengi dengan ikhtiar yang maksimal. Dari peristiwa ini, kita bisa meneladani bagaimana seharusnya etos kerja seorang muslim, bahkan dalam kisah ini dicontohkan oleh seorang wanita.

Jika seorang wanita saja mampu memiliki mental berikhtiar yang kuat maka seharusnya laki-laki memiliki mental yang jauh lebih kuat. Kita juga melihat bahwa Allah memberi rezeki kepada Hajar dan Ismail bukan di bukit Shafa maupun Marwah, namun di dekat area Kabah di bawah kaki Ismail.

Ini menunjukkan bahwa rezeki adalah rahasia Allah. Tugas manusia hanyalah berikhtiar dan berserah diri. Bahkan terkadang Allah memberikan rezeki melebihi dari apa yang kita minta, kita saksikan bahwa hajar hanya mencari air untuk dirinya dan Ismail, namun Allah memberikan air zam-zam untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman. (*)