KUDUS, Joglo Jateng – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang berupaya mendorong para petani milenial dalam memanfaatkan teknologi modern. Hal itu karena sektor ini menjadi salah satu prioritas Pemkab Rembang.
Bupati Rembang, H. Abdul Hafidz, menekankan pentingnya memprioritaskan sektor pertanian dan peternakan, mengingat potensi besar yang dimiliki daerah ini. Sejak 2015, Pemkab Rembang telah fokus pada pengembangan sektor ini. Meskipun menghadapi tantangan perubahan iklim.
“Faktanya, kadang-kadang kita terkejut, mengapa negara agraris masih harus mengimpor. Sejak 2015, kami terus memprioritaskan pertanian dan peternakan karena itu potensi yang ada di kita yang tidak boleh diintervensi,” ujar Hafidz.
Ia menambahkan, perubahan iklim yang sering berubah memerlukan penerapan teknologi yang tepat. Hal ini akan dipandu oleh petani milenial.
“Teknologi itu yang akan kita perankan, dipandu oleh petani milenial. Itu harapan kita. Perubahan iklim tidak boleh menjadi penghalang,” katanya.
Ia juga berterima kasih kepada Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) yang telah memberikan pendampingan. Hafidz menekankan, Pemkab Rembang mulai berinovasi dengan variasi tanaman seperti tebu, tembakau, dan pala, selain padi.
“Kami sampaikan terima kasih kepada generasi milenial yang sukarela menjadikan tanah bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kita tidak boleh tergiur dengan industri yang ada, sekarang ini kan serba instan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dintanpan Rembang, Agus Iwan menyatakan, keberlanjutan petani millenial sangat penting. Saat ini, petani muda berjumlah hampir 100.000 berdasarkan usia.
Petani yang mengolah sawah tanaman pangan rata-rata berusia lanjut, 50 tahun ke atas. Ia menyebutkan, jika tidak disiapkan sekarang, yang dikhawatirkan adalah kekurangan pekerja di pertanian.
“Rembang memiliki potensi tanaman pangan meskipun tidak besar di Jawa Tengah. Kami juga salah satu penyumbang di kabupaten lain. Karena kondisi yang relatif kering, produksi jagung kita besar. Tembakau juga menjadi salah satu daya tarik petani kita. Secara kesejahteraan tembus, tapi secara swasembada belum,” jelas Iwan. (cr3/fat)










