REMBANG, Joglo Jateng – Bupati Rembang, Abdul Hafidz, akan mengakhiri masa jabatannya. Pada acara perpisahan yang diadakan, ia menyampaikan beberapa refleksi terkait berbagai program yang belum terealisasi sepenuhnya selama masa kepemimpinannya.
Dalam pidatonya, Abdul Hafidz mengungkapkan, ada dua hal yang menjadi ganjalan di hatinya. Yaitu mengenai penataan kota dan pengembangan olahraga di Rembang.
“Saya merasa ada janji yang belum terpenuhi, terutama mengenai penataan kota dan pengembangan olahraga di Rembang,” kata dia pada saat acara pamit undur diri bupati dan wakil bupati Rembang periode 2021-2025 di Pendopo Kartini Rembang, Senin (17/2/25).
Terkait penataan kota, Hafidz menjelaskan, salah satu langkah awal dalam perencanaan kota adalah pemindahan pasar. Namun, rencana tersebut terkendala karena banyak pedagang yang menolak untuk dipindahkan. Hal ini, menurutnya, menjadi salah satu hambatan besar dalam upaya penataan kota yang lebih baik.
“Penataan kota ini diawali dengan perencanaan pasar yang dipindah, namun pedagangnya tidak mau. Ini menjadi ganjalan untuk menata kota. Mudah-mudahan bupati baru bisa melanjutkan dan menyelesaikan penataan kota yang lebih baik,” harapnya.
Dia menambahkan, rekomendasi dari Universitas Diponegoro (Undip) yang bekerja sama dengan Pemkab Rembang menekankan, pasar harus digeser. Upaya ini untuk mendukung penataan yang lebih optimal.
Selain penataan kota, Hafidz juga mencerminkan kegelisahannya terkait rencana pembangunan Sport Center yang sebelumnya ia canangkan. Namun, hingga akhir masa jabatannya, rencana tersebut belum terlaksana dengan baik.
“Terkait olahraga, saya dulu canangkan untuk membuat sport center, tapi kenyataannya ini belum terlaksana, sehingga menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi saya,” ungkapnya.
Ia berharap agar olahraga di Rembang dapat berkembang lebih maju di masa depan. Selain itu, dapat memberikan fasilitas yang memadai bagi masyarakat, terutama bagi generasi muda.










