REMBANG, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang terus mendorong pengembangan bawang merah sebagai salah satu komoditas hortikultura potensial. Upaya itu dilakukan untuk memperkuat sektor pertanian dan meningkatkan pendapatan petani.
Kecamatan Sumber menjadi salah satu wilayah yang mulai menunjukkan potensi pengembangan, termasuk melalui budidaya bawang merah menggunakan benih atau biji yang tengah dikembangkan petani setempat.
Komoditas bawang merah di Kecamatan Sumber dalam dua tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup menjanjikan. Selain didukung kondisi lahan yang sesuai, petani setempat juga mulai menerapkan teknologi budidaya dan memiliki pemahaman mengenai pengendalian hama serta penyakit tanaman.
Manajer Brigade Pangan Sumber Sejahtera, Alif Fachrijal Rosyid, mengatakan hasil panen bawang merah di wilayahnya tergolong baik. Harga jual di tingkat petani juga relatif stabil.
“Untuk bawang merah yang sudah melalui proses pengeringan dan pemotongan daun, saat ini dibeli pedagang dengan harga sekitar Rp19.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Di tingkat pasar bisa mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram,” ujarnya.
Alif yang juga berprofesi sebagai petani bawang merah menjelaskan, budidaya komoditas tersebut memiliki sejumlah tantangan. Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan tanam. Selain itu, petani harus mempersiapkan kebutuhan produksi sejak awal, mulai dari benih, pupuk, hingga obat-obatan tanaman.
“Tantangan terberat biasanya serangan hama dan penyakit, seperti ulat, kutu, tungau, dan thrips. Karena itu perawatan harus intensif, termasuk penyemprotan secara berkala,” jelasnya.
Petani di Kecamatan Sumber saat ini mulai mengembangkan metode budidaya bawang merah menggunakan benih atau biji, selain metode yang selama ini lebih umum menggunakan umbi.
Pengembangan tersebut masih dalam tahap pembelajaran dan uji coba. Namun, hasil awal yang diperoleh menunjukkan potensi yang cukup menjanjikan.
“Kalau menggunakan benih, potensi hasilnya bisa mencapai 15 hingga 20 ton per hektare. Saat ini kami masih dalam tahap pengembangan dan pembelajaran, tetapi hasil awal cukup menjanjikan,” kata Alif.










