KENDAL, Joglo Jateng – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap adanya sejumlah sumber gempa yang perlu menjadi perhatian di Kabupaten Kendal. Salah satunya merupakan sesar aktif yang berada di wilayah daratan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Stasiun Geofisika BMKG Banjarnegara, Hery Susanto Wibowo, dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) yang digelar bersama Komisi V DPR RI di Kabupaten Kendal, Rabu (12/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 53 peserta dari berbagai unsur masyarakat.
Hery menjelaskan, sesar dapat dikategorikan aktif apabila pernah mengalami aktivitas gempa bumi, meskipun dengan kekuatan yang relatif kecil. Karena itu, keberadaan sumber gempa perlu dipahami masyarakat sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan.
“Untuk wilayah Kendal sendiri ada beberapa sumber gempa. Ada Sesar Kendal atau Back Arc Thrust Java Kendal, kemudian Back Arc Thrust Semarang yang menerus ke wilayah Kendal, Ungaran, Back Arc Thrust Merapi, serta sesar lainnya,” kata Hery.
Menurutnya, salah satu sesar yang berada di wilayah Kendal memiliki panjang sekitar 19 kilometer. Sumber gempa berupa sesar juga tidak berbentuk satu titik tertentu, melainkan merupakan sebuah bidang. Karena itu, pemantauan aktivitas gempa tidak harus dilakukan hanya pada satu titik yang dianggap sebagai lokasi sumber gempa.
Selain memberikan informasi mengenai sumber gempa, BMKG juga menjelaskan perangkat pemantauan yang telah tersedia di Kabupaten Kendal. Salah satunya accelerograph yang ditempatkan di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kendal. Perangkat tersebut berfungsi mengukur guncangan atau percepatan yang terjadi akibat gempa bumi.
Anggota Komisi V DPR RI, Eksan Kusbandono, mengatakan Sekolah Lapang Gempa Bumi menjadi sarana edukasi bagi masyarakat agar memahami potensi gempa sekaligus mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
“Tujuannya memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya peserta yang hadir, supaya mengetahui terkait gempa bumi dan apa saja yang perlu dilakukan apabila bencana terjadi,” kata Eksan.
Ia berharap peserta yang mengikuti kegiatan tersebut dapat meneruskan pengetahuan kebencanaan kepada keluarga, tetangga, maupun masyarakat di lingkungan masing-masing.
Dalam Sekolah Lapang Gempa Bumi materi yang diberikan tidak hanya membahas potensi gempa, tetapi juga langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa terjadi.
Peserta juga mengikuti gladi ruang atau table top exercise (TTX). Dalam simulasi tersebut, masyarakat, BPBD, media, TNI, Polri, dan unsur terkait diberikan peran sesuai tugas masing-masing ketika menghadapi situasi bencana. Setelah simulasi selesai, seluruh proses dievaluasi untuk mengetahui kesiapan sekaligus koordinasi antarunsur. (ags/gih/rds)










