PURWOREJO, Joglo Jateng – Program Serap Gabah (Sergab) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto untuk menyejahterakan petani, pada praktiknya tak berjalan mulus. Pada panen Musim Tanam ke-1 (MT 1) petani-petani di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, kesulitan menjual gabah seharga Rp6.500 per Kg.
Kepala Desa Purwosari, Kecamatan Purwodadi, Budiantoro mengatakan bahwa, dalam forum-forum resmi, Bulog dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Purworejo selalu menyampaikan bahwa, Bulog siap menampung gabah dari petani. Dengan kondisi gabah seperti apa pun, petani akan dibayar Rp6.500 per Kg.
“Tapi kenyataannya, saat akan setor ke mutra-mitra Bulog, petani kesulitan. Karena daya tampung di mitra Bulog terbatas. Setiap mitra membutuhkan waktu minimal 2 hari dalam kondisi panas untuk mengeringkan gabah. Sementara petani panen kan setiap hari. Akhirnya dijual ke pengepul dengan harga Rp5.700 – Rp5.800 per Kg. Ini sama saja, program pemerintah belum menyentuh ke semua petani,” kata Budianto, Minggu (02/02/2025).
Senada dengan itu, Kades Guyangan, Kecamatan Purwodadi, Sidiq Harjono mengatakan jika dia dan warga juga kesulitan mencari mitra Bulog yang siap membeli gabah mereka. “Program pemerintah sudah baik, hanya sarana dan prasarana yang belum siap. Kalau mau menjual ke mitra Bulog, kami untung-untungan, apakah sedang penuh atau tidak. Petani juga belum terlalu percaya dengan program ini. Terakhir, beberapa hari lalu saya jual Rp5.900 per Kg,” tutur Sidiq.
Menurut Sidiq, petani inginnya gabah cepat terjual, sehingga ketika diminta menunggu Bulog melalui mitra-mitranya membeli, banyak yang tidak mau. Apalagi di musim hujan, kebanyakan petani enggan menjemur gabah panenan mereka karena ribet.
“Solusi dari kami, petani, Bulog memperbanyak mitra, supaya program ini berjalan semestinya. Bisa juga, petani diminta mengeringkan, Bulog membeli dengan harga gabah kering. Sekarang ini baru awal musim panen sudah susah menjual ke Bulog, belum panen seluruh wilayah lho ini,” kata Sidiq.










