Narasumber kedua, Mamik Indaryani, mengulas peran budaya dalam membentuk ketimpangan gender.
Ia mengajak mahasiswa untuk menjadi agen perubahan dengan membentuk pola pikir yang responsif dan adil gender.
Sedangkan Ketua panitia, Dewi Sinta Saputri menuturkan bahwa seminar ini adalah wujud kontribusi mahasiswa terhadap pembangunan sosial yang inklusif.
“Kami ingin seminar ini jadi langkah awal. Harapannya, mahasiswa bisa membawa semangat keadilan ini ke lingkungannya masing-masing,” ungkapnya.
Selain materi yang berbobot, panitia juga menyiapkan fasilitas seperti konsumsi, sertifikat, serta seminar kit sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi peserta.
Melalui kegiatan ini, pihaknya meneguhkan komitmennya untuk terus mendorong peran mahasiswa dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara. (adm).










