KUDUS, Joglo Jateng – Di tengah derasnya arus modernisasi yang membuat banyak tradisi lokal mulai ditinggalkan, masyarakat Krandon, Kota Kudus, berhasil menghidupkan sebuah warisan leluhur yang hampir punah, yakni tradisi memasak dan membagikan Bubur Asyuro. Tradisi ini menjadi simbol kuat kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial.
Keunikan tradisi ini terlihat dari proses pembuatannya yang tidak sederhana. Persiapan dimulai sejak malam hari dan baru selesai menjelang siang keesokan harinya. Puluhan bahan harus disiapkan dan diolah secara bersama-sama, sehingga mustahil dikerjakan hanya oleh satu atau dua orang.
“Kelihatannya hanya bubur, tetapi prosesnya sangat panjang. Bahannya banyak dan persiapannya rumit. Justru dari sini masyarakat belajar arti kebersamaan karena semua harus saling membantu,” ujar Ketua Tim Cokriyo Palguno Krandon, KH Abdul Muiz Al Hafidz.
Bubur Asyuro yang dikenal memiliki cita rasa gurih dan asin tersebut dibuat dari beragam bahan. Mulai dari beras, telur, tempe, kelapa, palawija, rempah-rempah, hingga berbagai hasil bumi masyarakat setempat.
Beragam bahan yang berbeda itu dipadukan menjadi satu hidangan lezat. Hal ini mencerminkan kehidupan masyarakat yang beragam namun tetap harmonis dalam kebersamaan.
Yang menarik, seluruh kebutuhan penyelenggaraan tradisi ini berasal dari swadaya masyarakat. Tidak ada ketergantungan pada sumber dana tertentu. Warga memberikan bantuan sesuai kemampuan masing-masing, baik berupa uang, bahan makanan, minyak goreng, maupun tenaga.
“Bentuk bantuannya bermacam-macam. Ada yang menyumbang bahan, ada yang membantu tenaga, ada yang memberi dana seadanya. Semua merasa memiliki tradisi ini,” sebutnya.
Semangat gotong royong tersebut menjadi daya tarik tersendiri yang jarang ditemukan di tempat lain. Kekompakan warga terlihat sejak proses persiapan, memasak, hingga pembagian bubur kepada masyarakat. Bahkan, banyak warga yang tidak dapat terlibat langsung tetap berpartisipasi melalui sumbangan sesuai kemampuan mereka.
Tahun ini, panitia menyiapkan sekitar 500 porsi Bubur Asyuro yang dibagikan kepada para donatur, ulama, santri, warga sekitar, serta masyarakat umum. Antusiasme masyarakat pun masih sangat tinggi meskipun tradisi ini sempat vakum beberapa tahun akibat pergantian kepengurusan.
Menurut Muiz, pelaksanaan 2026 merupakan penyelenggaraan keempat setelah tradisi tersebut kembali dihidupkan oleh Tim Cokriyo Palguno. Sebelumnya, tradisi Bubur Asyuro di Krandon nyaris hilang dan hanya segelintir pihak yang masih melaksanakannya.
“Tradisi ini hampir punah. Karena itu kami berupaya menghidupkannya kembali agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ungkapnya.
Selain menjadi tradisi budaya, Bubur Asyuro juga memiliki keterkaitan dengan peringatan Hari Asyura yang sarat nilai sejarah dalam perjalanan para nabi. Momentum tersebut menjadi sarana untuk memperkuat rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.
Bagi masyarakat Krandon, Bubur Asyuro bukan hanya makanan. Semangkuk bubur gurih itu menjadi simbol persatuan, kepedulian, dan kekuatan gotong royong yang terus hidup dari generasi ke generasi. (uma/fat/rds)










