SEMARANG, Joglo Jateng – Menjadi simbol peradaban Budha di Nusantara, Candi Borobudur selalu menjadi tujuan utama saat perayaan Hari Waisak. Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah mengungkap, jumlah kenaikan pengunjung di Candi Borobudur capai 20 persen saat Waisak 2025. Bahkan terhitung sejak 3 hingga 14 Mei 2025 ada sekitar 90 ribu orang datang ke Borobudur.
“Hampir sekitar 90 ribu orang ke Borobudur, selain wisatawan banyak umat Buddha yang ibadah ke Borobudur sekaligus berwisata, 10-12 persen itu diperkirakan orang asing,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pemasaran Pariwisata Disporapar Provinsi Jawa Tengah Endro Wicaksa saat ditemui di kantornya, belum lama ini.
Endro menuturkan, kenaikan jumlah kunjungan di Candi Borobudur itu secara otomatis akan mendongkrak persentase kunjungan wisatawan di Jawa Tengah pada Mei 2025. Normalnya, kunjungan wisatawan pada bulan Mei berkisar di angka 6,5 juta hingga 6,8 juta pengunjung. Berkat Waisak yang bertepatan dengan libur panjang akhir pekan ini, Endro optimis jumlah wisatawan di Jawa Tengah pada Mei 2025 bisa tembus 7 juta orang.

“Kami targetkan dengan adanya libur waisak kemarin itu bisa mendongkrak kunjungan wisatawan Jawa Tengah sekitar 7 jutaan dalam ulan Mei ini. Karena biasanya Mei mencapai 6 juta sampai 6,8 juta kunjungan,” bebernya.
Bahkan, tutur Endro, kunjungan ke Candi Borobudur yang melonjak saat Waisak juga berdampak ke Provinsi DI Yogyakarta yang menjadi tetangga Jawa Tengah.
“Sampai provinsi tetangga seperti Jogja pun mendapat limpahan wisatawan yang mengunjungi perayaan Waisak tersebut,” tuturnya.
Lebih lanjut, Endro menyebut tak cuma Candi Borobudur yang mengalami peningkatan wisatawan saat libur panjang akhir pekan. DTW di Kota Solo dan kabupaten/kota lainnya juga ikut mengalami kenaikan, salah satunya Karimunjawa yang berlokasi di Jepara.
“Bahkan Karimunjawa biasanya weekend hanya dua kali trip, kemarin selama liburan itu dari Sabtu, Minggu, Senin, Selasa sampai tiga kali trip. Itu pun masih banyak wisatawan di sana yang belum bisa pulang dan harus extend. Alhasil hotel, restoran, cafe, handicraft, meningkat penjualannya,” pungkas Endro. (luk/adf)










