Demak  

20 Tahun Ditelan Rob, Warga Pesisir Demak Gantungkan Harapan Terakhir pada Tanggul Laut

‎‎Haru: Saat Mbah Sumaerah sedang menceritakan kondisi rumahnya yang tak kunjung surut akibat Rob di Demak. (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

DEMAK, Joglo Jateng — Sudah lebih dari 20 tahun warga pesisir Desa Bedono, Kecamatan Sayung, hidup berdampingan dengan rob. Di tengah keterbatasan dan keprihatinan yang berkepanjangan, mereka kini menggantungkan harapan besar pada proyek tanggul laut (giant sea wall) yang tengah dikebut pemerintah pusat.

‎‎Zamroni (50), warga Dukuh Pandansari, mengaku warga sudah terlalu lama hidup di tengah genangan rob. ”Kalau ditanya rob itu seperti apa, kami sudah tidak bisa bedakan lagi. Sudah hidup berdampingan sejak 20 tahun lalu. Solusinya hanya satu, tanggul laut,” ucapnya, Rabu (25/6/25).

‎‎Ia dan keluarganya terpaksa meninggalkan rumah mereka yang kini tenggelam dan menumpang hidup di lahan milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Sejak 2015 dirinya mendirikan warung sederhana yang juga menjadi tempat tinggal. Tempat itu tak jauh dari proyek pembangunan tol Semarang–Demak yang terintegrasi dengan tanggul laut.

‎‎“”Setiap tahun warga tinggikan rumah, satu meter, dua meter. Tapi itu bukan solusi. Lama-lama kehabisan biaya. Padahal kebutuhan hidup banyak,” ujarnya.

‎‎Di sekitarnya, puluhan rumah warga juga tenggelam. Termasuk milik Mbah Sumaerah (70), yang tinggal bersama anak, menantu, dan dua cucunya dalam rumah yang sudah seperti rumah apung. Genangan air setinggi pinggang orang dewasa mengelilingi rumah dari papan yang sudah lapuk dan berlumut.