Dalam presentasinya, ia menegaskan bahwa ekoteologi merupakan bentuk nyata integrasi nilai-nilai Islam dalam upaya pelestarian lingkungan hidup di lingkungan perguruan tinggi.
“Ekoteologi bukan hanya konsep, melainkan harus terimplementasi dalam kurikulum, riset, hingga pengabdian kepada masyarakat,” tegasnya.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, para peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke dua lokasi inspiratif. Pertama, Nusabersih by Zero Waste Nusantara, perusahaan daur ulang sampah yang mengusung konsep keberlanjutan.
Kedua, Sentra Patung Mulyoharjo, mitra binaan UNISNU yang memproduksi ukiran dan furnitur dari limbah kayu sebagai wujud pemanfaatan limbah bernilai ekonomi dan budaya.
Melalui kegiatan ini, kedua institusi berkomitmen mendorong pengembangan program lingkungan berbasis nilai keislaman, memperkuat kolaborasi riset, serta memperluas jangkauan pengabdian kepada masyarakat.
Program Green Matrix diharapkan menjadi langkah awal menuju terciptanya kampus hijau yang berkelanjutan dan berdaya saing. (oka/gih)










