JEPARA, Joglo Jateng – Isu dugaan beras oplosan pada beberapa merek beras premium yang diungkap pemerintah pusat membuat sejumlah masyarakat di Kabupaten Jepara dilanda keresahan. Isu beras premium oplosan berkembang luas melalui media sosial dan grup-grup pesan instan, menimbulkan kekhawatiran soal kualitas, keamanan pangan, dan kejujuran pedagang yang beroperasi.
Keresahan ini muncul sejak pemerintah pusat mengabarkan bahwa beredarnya daftar merek beras yang diduga merupakan hasil pengolosan antara beras premium dan medium.
Salah satu warga Desa Bawu, Kecamatan Batealit, Endang Sugiarti, biasa membeli beras Wilmar ukuran 25 kilogram seharga Rp 340 ribu. Menurutnya, rasa beras tersebut semakin menurun, sehingga kini ia memilih merek Raja Lele seharga Rp 355 ribu.
“Saya kalau beli beras itu karungan, jadi setiap beras habis, itu tahu rasa dari beras sebelum dan setelahnya. Pertama berasnya pulen enak, yang kedua agak pucet warnanya dan nggak enak. Terus ganti merek dan enak, dengan harga Rp 354 ribu,” ucapnya pada Joglo Jateng, Rabu (16/7).
Hal serupa juga dirasakan, Ayu, warga Desa Ngasem, Kecamatan Batealit. Ia merasakan perbedaan kualitas pada beras produksi Wilmar. Meski sempat rutin membeli beras premium seharga Rp 76 ribu per 5 kilogram, ia mengeluhkan nasi yang cepat berair meski menggunakan rice cooker normal.
Merasa kurang puas, kini ia beralih ke merek lain, bahkan sebelum isu beras oplosan ramai diberitakan. “Kalau harga beras di bawa Rp 13 ribu memang kurang enak. Makanya beli premium Wilmar 5 kilogram untuk 10 hari. Kalau pulen sih pulen, tapi cepat berair padahal magicom normal,” ucapnya.










