SMP 2 Kaliwungu Deklarasikan Si Santri Zero Plastik

BOTOL: Para siswa di SMP 2 Kaliwungu menerapkan gerakan zero sampah dengan membawa botol minum untuk mengurangi sampah plastik setiap hari di sekolah. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Komitmen terhadap kelestarian lingkungan kembali ditunjukkan SMP Negeri 2 Kaliwungu melalui gelaran Deklarasi Si Santri (Santun Berprestasi) Zero Plastik, yang berlangsung meriah di halaman sekolah. Momen tersebut, sekaligus melantik 48 kader Adiwiyata yang akan menjadi ujung tombak gerakan lingkungan hidup di sekolah.

Kegiatan ini menjadi bagian upaya sekolah dalam membangun karakter siswa yang peduli terhadap lingkungan. Dalam deklarasi tersebut, para siswa berjanji untuk menjaga kebersihan diri, kelas, dan lingkungan. Serta menjaga kelestarian dengan merawat tanaman, membuang sampah sesuai jenisnya, dan mengurangi penggunaan plastik.

Kepala SMP 2 Kaliwungu, Fitriani mengungkapkan, siswa diajak menggunakan fasilitas sekolah seperti air dan listrik seperlunya. Kemudian mematikan alat elektronik, lampu, dan kipas apabila sudah tidak digunakan menjadi kebiasaan yang terus ditanamkan.

Deklarasi ini mendorong siswa menjalani gaya hidup minim sampah. Seperti mendaur ulang barang tidak terpakai, memanfaatkan sampah organik untuk kompos. Serta membawa alat makan dan perlengkapan ibadah sendiri dari rumah.

Gerakan ini merupakan lanjutan dari berbagai inovasi lingkungan yang telah dijalankan sejak awal tahun. Termasuk larangan penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah.

“Kami ingin mencetak karakter anak yang peduli lingkungan. Mulai Januari kami sudah mengupayakan larangan membawa kemasan plastik ke sekolah,” katanya.

Fitriani mengungkapkan, hasilnya mulai terlihat. Para siswa kini terbiasa membawa tumbler sendiri. Sampah plastik yang dulu menumpuk setiap hari kini hampir tidak terlihat.

Alhamdulillah sekarang tidak ada lagi sampah botol plastik di kelas-kelas. Dulu tiap hari bisa numpuk, sekarang drastis berkurang,” jelasnya.

Sebagai langkah strategis, SMP 2 Kaliwungu juga melibatkan siswa dalam gerakan ini secara aktif dengan membentuk kader Adiwiyata. Bahkan, inovasi ini juga diterapkan kepada seluruh elemen sekolah, termasuk guru dan kantin.

“Satu kelas ada dua kader, mereka jadi pelopor di kelas masing-masing. Mereka mengingatkan teman-temannya soal pengelolaan sampah dan hidup bersih. Sekolah kami tidak menggunakan plastik sekali pakai. Bahkan kantin pun sudah tidak menyediakan kemasan plastik,” tambahnya.

Meski telah berhasil menekan limbah plastik, sekolah mengakui masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah organik. Untuk organik masih diupayakan solusinya. Sekolah berrencana membuat lubang biopori agar sampah organik bisa diolah menjadi pupuk. (uma/fat)