Regenerasi Petani Garam Rembang Terancam Mandek

DARI KEJAUHAN: Seorang petani garam Kabupaten Rembang, Jawa Tengah memanen garam. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

REMBANG, Joglo Jateng – Kekhawatiran akan krisis penerus di sektor produksi garam tradisional mulai dirasakan para petani garam di Rembang. Rendahnya harga jual garam dianggap menjadi penyebab utama minimnya minat generasi muda untuk melanjutkan profesi tersebut. Para petani berharap ada perhatian lebih dari pemerintah agar harga garam bisa meningkat dan profesi petani garam tetap lestari.

Parimin (70), petani garam asal Desa Kedungwatu, Kecamatan Sumber, telah menggeluti pekerjaan ini sejak tahun 1970. Ia mengaku prihatin melihat minimnya minat generasi muda terhadap profesi yang telah menghidupi keluarganya selama puluhan tahun.

“Anak muda sekarang lebih memilih kerja di pabrik. Jadi petani garam nggak mau. Yang masih bertahan ini generasi kelahiran 50-an, 60-an,” ujarnya baru-baru ini.

Hal senada disampaikan oleh Siswanto (49), petani garam dari Desa Dresi. Ia menyebut, ketidakstabilan harga membuat masa depan petani garam semakin tidak menentu.

“Harapan ke depan produksi meningkat, harga juga naik. Pemerintah harus lebih memperhatikan petani-petani garam seperti kami ini. Soalnya ini produksi tradisional. Kalau harga bagus, kehidupan petani terjamin. Otomatis, generasi penerus pun akan tertarik,” ucapnya.

Menurutnya, harga garam saat ini masih berkisar antara Rp1.000 per kilogram. Bahkan di musim panen raya, harga bisa anjlok hingga Rp300–350 per kilogram. Situasi tersebut diperparah dengan tingginya biaya kebutuhan hidup, yang tidak sebanding dengan penghasilan sebagai petani garam.

“Kalau dibilang sejahtera, ya belum juga. Kebutuhan makin mahal, tapi harga garam tidak naik-naik. Kami harap petani garam ini tetap diuri-uri (dijaga kelestariannya),” bebernya.

Ia menekankan, jika perhatian terhadap nasib petani garam ditingkatkan, bukan tidak mungkin profesi ini akan tetap dilirik generasi muda. Terlebih, Rembang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil garam utama.

“Padahal Rembang ini kota garam. Sebenarnya kalau diperhatikan, bagus juga untuk mata pencaharian. Biarpun musiman, tapi tetap bisa jadi penghasilan tambahan. Kalau musim hujan bisa garap sawah, musim kemarau ke tambak garam. Jadi seimbang,” pungkasnya. (uma/iza)