Saat Mitos Merawat Harmoni

Canva/cascoly.

MITOS, legenda, dan takhayul terkadang menjadi bumbu penyedap dalam berbagai kejadian yang dianggap melebihi akal manusia. Meski begitu, kepercayaan terhadap mitos-mitos makin ditinggalkan oleh masyarakat karena dirasa sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman yang serba canggih. T

api, bagaimana jika mitos-mitos yang beredar di masyarakat justru membentuk harmoni antara manusia dengan alam.

Hubungan antara manusia dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) ibarat dua sisi mata uang. Ada kalanya berjalan damai, tapi sering juga penuh konflik.

Mongabay pernah menuliskan peristiwa tragis di Batam, Kepulauan Riau saat seekor monyet dibunuh karena dianggap mengganggu dengan memakan dagangan takjil. Kemudian di Kabupaten Jember terdapat kawanan monyet yang masuk ke pemukiman hingga merusak properti warga.

Situasi seperti ini kerap membuat monyet dianggap hama, dan manusia merasa terganggu.

Namun, ada kalanya manusia bisa dengan baik hidup berdampingan dengan monyet. Tidak ada pengusiran, tidak ada serangan, tidak ada cerita perusakan; tapi keduanya hidup dalam harmoni.

Mengapa bisa demikian? Jawabannya terletak pada sesuatu yang jarang kita pikirkan dalam konteks konservasi, yakni budaya dan kepercayaan lokal.

Percikan Perselisihan 

Sebelum membahas harmoni, mari kita tengok realitas konflik manusia dan monyet di tempat lain.

Di banyak desa dan kota di Indonesia, monyet ekor panjang sering kali muncul sebagai “tamu tak diundang”.

Mereka merusak kebun, mengambil buah, atau menyerbu dapur untuk mencari nasi dan lauk.

Bahkan, di Batam, segerombolan monyet ekor panjang masuk ke dalam Bandara Internasional Hang Nadim hingga menyebabkan sedikit keributan. Akhirnya petugas bandara berhasil menangkap monyet tersebut.

Mengutip dari artikel yang dikeluarkan oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), salah satu penyebab kejadian ini adalah berkurangnya habitat alami yang terkonversi menjadi pemukiman, ladang, dan lainnya. Ketika monyet kehilangan rumah dan sumber makanan, mereka mencari alternatif di wilayah manusia. Ketika ruang hidup tumpang tindih, konflik pun muncul.

Fenomena di Tulungagung memberi warna lain. Di sebuah pemakaman tua bernama Ngujang, monyet ekor panjang hidup dengan tenang dan warga tidak merasa terganggu atas keberadaannya.

Hal ini bisa terjadi karena masyarakat menganggap monyet-monyet itu sebagai sosok sakral yang tidak boleh diganggu.

Bahkan, ada kepercayaan masyarakat setempat yang menjelaskan jika hewan-hewan itu merupakan santri yang dikutuk oleh Sunan Kalijaga karena nakal.

Namun, ada juga masyarakat yang percaya monyet-monyet itu adalah jelmaan dari orang pencari pesugihan yang sudah meninggal dunia.

Terlindungi oleh Pantangan

Konsep pamali atau larangan adat masih ditemukan di berbagai tempat di Indonesia. Misalnya, ada larangan membunuh hewan tertentu karena dianggap bisa mendatangkan kesialan.

Ada juga kepercayaan bahwa satwa tertentu adalah perwujudan roh leluhur atau penjaga alam.

Bagi masyarakat modern, mungkin terdengar seperti mitos. Namun secara ekologis, pantangan ini sangat berfungsi.

Ia menciptakan pagar sosial yang mencegah manusia merusak alam atau memburu satwa tertentu. Kajian berjudul Sacred Natural Sites: Conserving Nature and Culture menjelaskan bahwa sesuatu yang dikeramatkan dapat menjaga kawasan atau hal tertentu.

Sayangnya, tidak semua kearifan lokal bertahan. Modernisasi, urbanisasi, dan pariwisata kadang justru merusak nilai-nilai ini. Di objek wisata, pengunjung sembarangan memberi makan monyet.

Akibatnya, monyet jadi terbiasa bergantung pada manusia dan lebih agresif merebut makanan. Perubahan perilaku ini memicu konflik baru.

Ketika nilai budaya yang menekankan penghormatan hilang, hubungan manusia dan monyet pun bergeser. Dari yang tadinya harmonis, menjadi tegang dan penuh gesekan.

Beberapa data dari penelitian bisa memberi gambaran nyata tentang kondisi populasi monyet ekor panjang di Indonesia.

Di Taman Wisata Alam Madapangga, Bima, terdapat 161 individu monyet dengan struktur usia berimbang. Populasi relatif sehat karena hutan masih cukup baik.

Di Alas Kedaton, Bali, ada 364 monyet dengan komposisi 104 betina dewasa dan 54 jantan dewasa. Masyarakat sekitar tetap menghormati mereka sebagai bagian dari kawasan suci.

Sebaliknya, di Jakarta, populasi monyet di Hutan Angke Kapuk terus menurun. Dari lima kelompok yang dulu hidup, kini tersisa sekitar 115 individu. Mereka sering keluar kawasan mencari makan karena habitat makin sempit.

Data ini menegaskan bahwa habitat yang dijaga dan dihormati oleh masyarakat, baik karena alasan budaya maupun agama, cenderung mampu menjaga populasi monyet tetap stabil.

Penulis: Kukuh Akhfadaturrahman TohariEditor: Dzikrina Abdillah