Menurut Zaenuri, desa wisata rentan terhadap perubahan tren pariwisata. Karena itu, tata kelola yang adaptif sangat penting agar pengelola bisa menyesuaikan dengan kebutuhan wisatawan.
Ia juga menekankan pentingnya collaborative governance atau tata kelola kolaboratif.
“Pemerintah bisa berkolaborasi dengan swasta, akademisi, maupun media. Swasta punya modal, perguruan tinggi punya riset dan pengabdian, sementara media sangat berperan dalam promosi,” jelasnya.
Panelis lain, Ir. Fajril Lubab, menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur, khususnya akses jalan menuju destinasi wisata. Menurutnya, infrastruktur yang baik akan meningkatkan minat wisatawan.
“Kalau jalannya nyaman, orang akan lebih semangat berwisata. Selain itu, bangunan juga harus aman, ramah anak dan lansia,” ujar Fajril, putra Kendal yang kini terlibat dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Sementara itu, Adi Wahyono, alumni dengan pengalaman di bidang komunikasi publik, menekankan pentingnya strategi promosi terpadu. Media massa, media tradisional, hingga media sosial harus dimanfaatkan secara maksimal.
“Generasi muda Kendal mayoritas pengguna smartphone. Media sosial seperti Facebook, Instagram, dan YouTube sangat strategis untuk promosi wisata,” ungkapnya.
Ia menyampaikan bahwa melalui kegiatan ini, para alumni SMAN 1 Kendal 1985 berharap desa wisata di Kendal semakin berkembang.
“Dengan potensi alam yang lengkap, dari pantai hingga pegunungan, kami yakin Kendal bisa menjadi tujuan wisata unggulan jika didukung tata kelola yang baik, infrastruktur memadai, serta promosi yang masif,” pungkasnya.(ags)










