JEPARA, Joglo Jateng – Memasuki masa panen raya, para petani garam di pesisir Kabupaten Jepara justru harus menerima kenyataan hasil produksi mereka tahun ini menurun drastis. Penyebabnya, musim kemarau yang datang terlambat membuat masa panen baru bisa dimulai pada Oktober.
Di sepanjang lahan tambak garam di Kecamatan Kedung, keranjang tombong atau bambu berisi garam tampak berjejer rapi di pematang. Pemandangan ini menandakan dimulainya musim panen raya garam yang hanya bisa dilakukan di musim kemarau. Biasanya, setiap lahan tambak bisa menampung sekitar 8 hingga 10 tombong garam.
Nurudin (33), petani garam asal Desa Kedungmutih, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, yang menggarap tambak di Desa Bulakbaru, Kecamatan Kedung, mengatakan hasil panennya tahun ini jauh menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kalau tahun kemarin cuacanya kan lebih bagus dibanding tahun ini, hasilnya bagus tahun lalu,” kata Nurudin, Senin (20/10).
Nurudin yang mengelola lahan seluas satu bahu atau sekitar 3/4 hektare, kini hanya bisa memanen 10 tombong garam per hari, masing-masing seberat sekitar 80 kilogram. Tahun lalu, pada masa panen raya, ia mampu menghasilkan hingga 15 tombong per hari. Meski hasilnya turun, harga jual garam justru mengalami kenaikan.
“Tapi ini untuk harga cenderung bagus, kisaran Rp120-130 ribu per tombong, kalau tahun lalu Rp60-70 ribu per tombong. Jadi ada keuntungan untuk petani,” ungkapnya.
Hal senada diutarakan Amir (37), petani asal Desa Panggung, Kecamatan Kedung, yang menggarap lahan tambak di Desa Tanggul Tlare. Tahun ini, Amir hanya bisa memanen sekitar 40 tombong garam per hari, padahal sebelumnya bisa mencapai 60 tombong.
“Tahun ini hasilnya nggak bisa maksimal, maksimal yang tahun kemarin. Karena hujan,” ujarnya.
Menurut Amir, mundurnya musim kemarau juga membuat proses pengolahan lahan ikut terlambat. Jika biasanya dimulai pada April-Mei, tahun ini baru bisa dilakukan sekitar Juni-Juli. Ia berharap masa panen raya bisa berlangsung lebih lama agar petani garam bisa menutup kerugian akibat hasil yang menurun.
“Harapannya sampai Januari semoga masih bisa panen,” pungkasnya. (oka/gih)










