Salah satu tantangan lapangan terdapat di jalur Rahtawu–Semliro. Karena keterbatasan alat berat yang tidak bisa naik ke medan pegunungan, metode aspal lapen menjadi pilihan utama.
”Aspal goreng dipakai karena alat tak dapat menjangkau lokasi. Kami harus menyesuaikan metode agar pekerjaan tetap bisa berjalan,” jelasnya.
Untuk memastikan penyelesaian sesuai target, pihak PUPR menerapkan sistem kerja simultan di berbagai titik sekaligus. Pekerjaan bahkan siap dilakukan hingga malam hari apabila dibutuhkan. Target penyelesaian maksimal ditetapkan pada 28 Desember 2025.
”Kami bergerak paralel di beberapa lokasi. Jika diperlukan, shift malam akan ditambah agar proyek rampung tepat waktu,” tegas Harry.
Dinas PUPR memastikan, seluruh konstruksi tetap mengacu pada spesifikasi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Pengawasan teknis dilakukan secara berkala agar standar mutu tetap terjaga.
”Masyarakat tidak perlu khawatir. Meski waktunya terbatas, kualitas tetap mengikuti spesifikasi yang ditetapkan,” imbuhnya.
Harry menekankan, DBHCHT telah menjadi instrumen penting dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Kudus. Hampir seluruh proyek jalan tahun ini didanai dari dana cukai, sehingga manfaatnya langsung dirasakan masyarakat di berbagai kecamatan.
”Tanpa DBHCHT, percepatan pembangunan tidak akan semassif ini. Tahun 2025 menjadi contoh nyata bagaimana dana cukai dapat dimanfaatkan untuk kepentingan publik,” tandasnya.
Dengan progres yang telah berjalan, pihaknya menargetkan seluruh pekerjaan tuntas sebelum tutup tahun. Infrastruktur yang baik diharapkan menjadi landasan kuat untuk mendorong peningkatan ekonomi, layanan publik, dan aksesibilitas wilayah di Kabupaten Kudus. (adm/fat)










