Raih Akreditasi B Perpusnas, Perpustakaan SMPN 5 Pemalang Terapkan Aplikasi SLiMS

Sejumlah siswa-siswi SMPN 05 Pemalang saat ikuti pembelajaran menggunakan teknologi digital di perpustakaan sekolah
ASIK: Sejumlah siswa-siswi SMPN 05 Pemalang saat ikuti pembelajaran menggunakan teknologi digital di perpustakaan sekolah, Rabu (4/2/26). (UFAN FAUDHIL/JOGLO JATENG)

PEMALANG, Joglo Jateng – Suasana tenang namun produktif terlihat di perpustakaan SMPN 5 Pemalang, di mana sejumlah siswa tampak asyik memanfaatkan fasilitas teknologi digital untuk belajar, Rabu (4/2/26). Sekolah ini baru saja menorehkan prestasi dengan meraih Akreditasi B tingkat nasional dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI.

Pencapaian yang diraih pada November 2025 tersebut merupakan buah dari komitmen sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang nyaman. Transformasi ini dilakukan demi mendongkrak minat baca dan memperkaya literasi siswa.

Inovasi Digital Lewat SLiMS

Kepala SMPN 5 Pemalang, Heru Ady Prasetyo mengungkapkan, hasil penilaian akreditasi ini tidak lepas dari kolaborasi seluruh warga sekolah. Pihaknya menjadi satu-satunya SMP di wilayah setempat yang memiliki fasilitas perpustakaan berstandar Perpusnas dengan basis digitalisasi.

“Alhamdulillah, ini berkat usaha semua guru, pengelola perpus, dan seluruh warga sekolah yang ingin menaikkan angka literasi pada siswa,” ucapnya.

Salah satu program unggulan yang menjadi nilai tambah adalah penerapan aplikasi Senayan Library Management System (SLiMS). Sistem ini mempermudah akses siswa dalam pemanfaatan kunjungan perpustakaan secara daring (online).

“Kami memiliki program unggulan inovasi digitalisasi pelayanan perpustakaan melalui aplikasi SLiMS. Tujuannya mempermudah akses siswa serta meningkatkan wawasan teknologi sesuai visi misi sekolah,” tambah Heru.

Siswa-siswi SMPN 5 Pemalang sedang menggunakan fasilitas komputer dan buku digital di perpustakaan sekolah.

Fasilitas Lengkap dan Kelas Khusus

Sementara itu, Kepala Perpustakaan SMPN 5 Pemalang, Suciati menjelaskan, pihaknya menawarkan berbagai fasilitas modern. Mulai dari ruang baca yang nyaman, koleksi buku bervariasi, ruang belajar digital, hingga sistem absensi masuk yang sudah terdigitalisasi.

“Digitalisasi juga digunakan pada absensi masuk perpustakaan, di mana sekolah lain belum mengadaptasinya,” jelas Suciati.

Selain kecanggihan teknologi, pendekatan humanis juga diterapkan. Sekolah membuka kelas khusus bagi siswa yang mengalami kendala kemampuan dasar membaca dan berhitung (calistung). Hal ini dilakukan karena masih ditemukan siswa yang kesulitan mengikuti pembelajaran akibat kurangnya kemampuan literasi dan numerasi.

“Kami ingin semua siswa punya kesempatan yang sama untuk belajar. Khusus mereka yang tidak dapat membaca dan menulis, kami berikan jam khusus tambahan materi pembelajaran dengan harapan mengejar ketertinggalan,” pungkasnya. (fan/sam)