YOGYAKARTA, Joglo Jateng – Kepergian Sumisih Yuningsih atau yang lebih dikenal sebagai Yu Beruk pada Sabtu (14/2/2026) pagi, menyisakan duka mendalam bagi dunia seni pertunjukan. Sosoknya bukan sekadar pelawak, melainkan maestro yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menjaga nafas kesenian tradisional Yogyakarta.
Bagi masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah, wajah Yu Beruk begitu melekat lewat program legendaris Obrolan Angkringan di TVRI Jogja. Di sana, ia sukses membangun karakter antagonis yang unik: judhes, ceplas-ceplos, namun tetap jenaka dan memancing gelak tawa. Perannya kerap menjadi bumbu penyegar yang dinanti-nanti pemirsa.
Jejak Karier Panjang
Lahir dengan nama Sumisih Yuningsih, Yu Beruk adalah seniman paket lengkap yang telah aktif sejak era 1990-an. Sebelum dikenal luas sebagai komedian panggung, ia memiliki dasar yang kuat sebagai penari klasik dan pernah mengabdi sebagai penyiar di RRI Yogyakarta.
Kepiawaiannya dalam berolah seni peran juga diakui di panggung nasional. Ia tercatat aktif dalam berbagai pementasan bergengsi, termasuk pentas Indonesia Kita garapan Butet Kartaredjasa dan Agus Noor. Baik dalam ketoprak, dagelan Mataram, hingga uyon-uyon, kehadiran Yu Beruk selalu menjadi magnet tersendiri.
Banjir Penghargaan
Konsistensi dan totalitasnya dalam nguri-uri (melestarikan) budaya Jawa mendapat pengakuan tinggi dari berbagai pihak.
- 2019: Menerima Anugerah Kebudayaan dari Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
- 2023: Mendapatkan Penghargaan Dedikasi Seni Tradisi dari Bentara Budaya Yogyakarta.
Hingga akhir hayatnya, Yu Beruk tetap menjadikan seni sebagai jalan hidup. Kini, meski sang legenda telah berpulang, semangat dan dedikasinya akan terus abadi sebagai inspirasi bagi generasi penerus pelestari budaya lokal. (rds)










