Tak Cuma Waisak, Menbud Fadli Zon Dukung Borobudur Jadi Pusat Wellness & Spiritual Dunia

Menteri Kebudayaan Fadli Zon sedang berdiskusi dengan Svida Alisjahbana membahas konsep Borobudur in Harmony di Kantor Kemenbud Jakarta
Menteri Kebudayaan Fadli Zon sedang berdiskusi dengan Svida Alisjahbana membahas konsep Borobudur in Harmony di Kantor Kemenbud Jakarta. (HUMAS/JOGLO JATENG)

JAKARTA, Joglo Jateng – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menerima audiensi Svida Alisjahbana di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Senin (2/3/2026). Pertemuan strategis ini membahas gagasan Borobudur in Harmony untuk memperkuat Candi Borobudur sebagai living heritage. Diskusi berlangsung interaktif dengan fokus utama mengubah wajah candi tidak hanya sebagai monumen historis, tetapi sebagai pusat spiritualitas dan dialog global.

Gagasan ini menolak pendekatan komersial biasa seperti fashion week, melainkan merancang agenda tahunan berkelanjutan. Tujuannya jelas, yakni mendongkrak ekonomi budaya lokal tanpa merusak nilai kesucian dari situs warisan dunia tersebut.

Svida Alisjahbana menjelaskan, program ini bertumpu pada tiga pilar utama: konferensi pemikiran, festival kebugaran fisik, dan keterlibatan komunitas spiritual. Aktivasi budaya yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari eksplorasi jamu sebagai sacred elixir, ritual matahari terbit, hingga sunset sound healing berlatar kemegahan candi.

“Kita ingin dunia datang bukan hanya untuk melihat monumen, tetapi untuk berpikir, merasakan, bertransformasi, dan merasa memiliki,” kata Svida.

Dorong Aktivasi Sepanjang Tahun

Rama Soeprapto yang turut mendampingi Svida menambahkan, Indonesia perlu memaksimalkan narasi besar budayanya. Ia mencontohkan negara-negara lain yang telah sukses menjadikan situs sejarahnya sebagai panggung seni berkelas dunia.

Merespons paparan tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan dukungan penuh. Pemerintah saat ini memang memprioritaskan pemanfaatan cagar budaya agar memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat di sekitar kawasan candi.

Menbud juga menyinggung rencana pemasangan chattra (payung susun di stupa utama) untuk memperkuat fungsi candi sebagai tempat ibadah utama bagi umat Buddha sedunia. Pengaktifan candi perlu dilakukan secara bertahap untuk menarik wisatawan.

“Kalau bisa ada aktivasi di sepanjang tahun, bukan hanya saat tertentu saja seperti Waisak. Ini perlu jadi perhatian kita bersama dalam menghidupkan kembali Borobudur,” ujar Fadli Zon.

Turut hadir dalam audiensi tersebut sejumlah pejabat kementerian, di antaranya Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, serta jajaran staf ahli dan staf khusus. Kolaborasi lintas sektor bersama swasta dan BUMN diharapkan segera terwujud demi pengelolaan kawasan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (hms/rds)