JEPARA, Joglo Jateng — Menjelang tradisi perayaan Lebaran Ketupat atau Bodo Kupat 2026, permintaan selongsong anyaman dan daun kelapa muda di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Jepara mengalami lonjakan tajam. Fenomena tahunan yang dirayakan sepekan usai Idulfitri ini tak pelak membawa berkah ekonomi yang berlimpah bagi para pedagang musiman di daerah tersebut.
Hidangan ketupat yang biasanya disajikan bersama opor ayam atau rendang memang menjadi elemen tradisi kuliner wajib bagi masyarakat setempat.
Berkah momen libur Lebaran ini salah satunya dirasakan langsung oleh Supri (30), warga Desa Bantrung, Kecamatan Batealit yang mendadak meraup keuntungan finansial berlipat.
Sejak hari kedua Lebaran, ia rutin menggelar lapaknya di Pasar Ngabul, Kecamatan Tahunan dari rentang waktu dini hari hingga menjelang siang.
“Mulai jualan dari hari kedua Lebaran, dari pagi buta sampai siang. Janurnya saya ambil dari pohon tetangga, asli Jepara. Kalau ketupat, saya buat sendiri dibantu keluarga,” terangnya saat ditemui di kediamannya, Selasa (24/3/2026).
Harga Terjangkau untuk Partai Besar
Supri membanderol barang dagangannya dengan harga yang cukup terjangkau. Untuk janur di Jepara segar dijual seharga Rp 8 ribu per 10 lembar, sedangkan ketupat yang sudah matang dibanderol Rp 12 ribu per pak.
Selain melayani konsumen rumahan secara eceran, ia juga sering kebanjiran pesanan dari pembeli berskala besar dengan rentang harga Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu untuk paket seribu lembar.
“Biasanya ada yang beli partai besar, satu paket isi seribu lembar. Harganya menyesuaikan kualitas janurnya,” jelas Supri.
Kantongi Omzet Jutaan Rupiah per Hari
Memasuki momen puncak arus liburan, Supri mengaku mampu melego lebih dari 5.000 lembar janur serta sekitar 500 buah ketupat dalam kurun waktu sehari.
Lonjakan penjualan ini diprediksi akan terus merangkak naik hingga menyentuh puncaknya pada hari keenam usai Idulfitri, seiring antusiasme warga menyiapkan hidangan khas tersebut.
“Alhamdulillah sehari bisa habis 5 ribu lembar janur dan 500-an ketupat. Omzetnya kurang lebih Rp 3 juta. Pembelinya tidak hanya dari Jepara, ada juga yang dari luar kota,” pungkasnya. (oka/gih/rds)










