Filosofi Ngaku Lepat dan Syukur Nelayan
Sementara itu, Bupati Jepara Witiarso Utomo turut menjelaskan makna filosofis yang terkandung di balik kebiasaan menyajikan kupat dan lepet pada perayaan Syawalan.
“Kupat dari kata ngaku lepat, artinya mengakui kesalahan. Lepet melambangkan kebersamaan yang erat. Setelah Idulfitri, kita diajak untuk saling memaafkan, saling menguatkan, dan kembali menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkap Witiarso didampingi Wakil Bupati M Ibnu Hajar.
Ia menuturkan bahwa tradisi ini merupakan manifestasi rasa syukur masyarakat pesisir Jepara, khususnya para pahlawan maritim atau nelayan, atas limpahan rezeki dari laut.
“Dari laut, kita belajar tentang kerja keras tanpa kenal lelah, keberanian menghadapi tantangan, serta pentingnya kebersamaan,” lanjutnya.
Pemerintah Kabupaten Jepara menaruh harapan besar agar tradisi Pesta Lomban, termasuk Festival Kupat Lepet, dapat semakin dikenal luas dan menjadi daya tarik pariwisata unggulan berskala nasional.
“Kita ingin Pesta Lomban ini semakin ramai, semakin dikenal, dan tentunya membawa berkah bagi masyarakat Jepara,” pungkasnya. (oka/gih/rds)










