Kendal  

Telan Dana Rp 100 Juta, Ini Makna Filosofis Tugu Tani Reborn di Sendangdawung Kendal

SIMBOL: Sekdes Sendangdawung Budi Ristanto saat menunjukkan tugu tani reborn yang menjadi ikon desanya, Rabu (8/4/2026). (AGUS RIYADI/JOGLO JATENG)

KENDAL, Joglo Jateng – Pemerintah Desa Sendangdawung, Kecamatan Kangkung mendirikan tugu tani reborn di pertigaan jalan desa sebagai ikon baru sekaligus penyemangat bagi warga. Tugu yang dilengkapi patung petani tersebut merepresentasikan karakter masyarakat setempat yang mayoritas berprofesi di sektor pertanian.

Kepala Desa Sendangdawung, Marbono, mengatakan pembangunan tugu tidak hanya bertujuan memperindah lingkungan desa. Namun, kehadiran monumen tersebut juga memotivasi warga agar tetap bersemangat mengembangkan potensi pertanian lokal.

“Tugu ini kami harapkan bisa menjadi simbol kebanggaan sekaligus pengingat bahwa desa ini bertumpu pada sektor pertanian,” katanya, Rabu (8/4/2026).

Pembangunan Tugu Tani Reborn tersebut memakan waktu sekitar tiga minggu pengerjaan. Proses pembuatannya melibatkan seniman asal Wonosobo dengan total anggaran mencapai Rp 100 juta.

Monumen tersebut ditempatkan di lokasi strategis agar mudah dilihat oleh masyarakat maupun pengguna jalan yang melintas.

Makna Cakar Ayam hingga Petani Milenial

Marbono menjelaskan, monumen tersebut memiliki filosofi yang mencerminkan kehidupan sosial masyarakat desa. Pada bagian dasar, terdapat lima titik fondasi dengan model cakar ayam.

Meski ukuran tugu tidak besar, struktur fondasinya dibuat kokoh sebagai simbol dasar kehidupan warga. Lima fondasi tersebut dimaknai sebagai representasi nilai-nilai yang menjadi pegangan masyarakat.

“Nilai tersebut selaras dengan jumlah sila dalam Pancasila dan rukun Islam yang dianut mayoritas warga,” terangnya.

Lebih lanjut, ia menjabarkan detail bagian tengah tugu yang sengaja dibuat dengan bentuk tidak beraturan dan terlihat retak-retak. “Struktur ini menggambarkan keberagaman pola pikir masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Perbedaan pendapat yang kerap muncul saat musyawarah dinilai sebagai sebuah dinamika yang wajar. Pada akhirnya, warga tetap mengarah pada tujuan bersama, yakni memperkuat ketahanan pangan desa.

Sementara itu, pada bagian puncak berdiri patung seorang petani yang membawa cangkul. Uniknya, figur tersebut digambarkan mengenakan celana bergaya kekinian dengan banyak saku.

Hal ini melambangkan sosok petani milenial yang adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap berakar kuat pada tradisi bertani.

Pihaknya berharap, kehadiran tugu ini dapat menjadi sebuah identitas visual bagi desa yang memiliki kawasan pertanian kuat. Selain itu, tugu ini diharapkan mampu menarik perhatian sekaligus memperkuat semangat gotong royong masyarakat ke depannya. (ags/gih/rds)