KENDAL, Joglo Jateng – Konflik geopolitik di Timur Tengah secara mengejutkan berimbas langsung pada nasib pengusaha kecil di daerah. Kenaikan ongkos logistik global memaksa harga kedelai naik drastis hingga menembus angka Rp 11.000 per kilogram menjelang momen Lebaran.
Kondisi ini memberikan pukulan berat bagi keberlangsungan industri rumahan di Kabupaten Kendal. Pasalnya, lonjakan bahan baku utama impor tersebut terjadi bersamaan dengan meroketnya komponen pendukung produksi lainnya.
Primer Koperasi Produsen Tahu dan Tempe (Primkopti) Harum Kendal mencatat, harga perlahan merangkak dari Rp 9.200 per kilogram pada awal Januari 2026, menuju puncaknya saat ini.
Ketua Primkopti Harum Kendal, Rifa’i, memaparkan bahwa ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu rentetan lonjakan harga minyak dunia. Hal ini secara otomatis mengerek naik tarif angkutan kargo internasional dan asuransi jalur laut.
“Ketegangan di Timur Tengah memengaruhi biaya transportasi dan asuransi. Kapal menjadi enggan melintasi jalur tersebut. Ongkos angkut naik sekitar 40 persen, sementara biaya asuransi hampir 100 persen,” terangnya, Selasa (14/4/2026).
Beban Produksi Berlipat Ganda
Rifa’i menambahkan, ketergantungan Indonesia pada pasokan kedelai dari Amerika Serikat dan sebagian Amerika Latin membuat ekosistem usaha di dalam negeri sangat rentan terguncang.
Situasi kian pelik karena perajin juga dihadapkan pada naiknya biaya material tambahan operasional harian.
“Kalau dulu kenaikan kedelai tidak dibarengi bahan pendukung. Sekarang justru semuanya naik, ini yang sangat memberatkan,” ungkap Rifa’i merujuk pada meroketnya harga minyak goreng dan plastik kemasan.
Siasat Perkecil Ukuran demi Pelanggan
Dampak nyata dari gejolak global ini telah menghantam urusan dapur para pembuat tahu di tingkat bawah. Ibnu Salim, perajin tahu tempe asal Desa Jatirejo, Kecamatan Ngampel, terpaksa memutar otak agar usahanya tidak gulung tikar.
Ia memilih tidak menaikkan patokan harga pasar karena khawatir daya beli masyarakat lesu dan pelanggannya kabur.
“Kami kurangi ukuran tahu dan tempe. Keuntungan turun sekitar 25 persen, tapi yang penting pelanggan tidak lari,” keluhnya.
Ibnu beserta puluhan perajin lainnya kini hanya bisa berharap adanya intervensi dari pemerintah. Langkah penstabilan tata niaga sangat dinantikan agar roda perputaran ekonomi industri kecil ini tetap bernapas di tengah ketidakpastian dunia. (ags/gih/rds)










