JEPARA, Joglo Jateng – Bagi sebagian orang, tanaman rumput laut mungkin hanya terlihat sebagai hasil panen biasa. Namun di tangan para ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Jaya Samudera, Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, rumput laut disulap menjadi beragam produk olahan bernilai ekonomi.
Mulai dari brownies, cookies, stik, kerupuk, permen, hingga kopi rumput laut kini menjadi produk andalan kelompok tersebut. Bahkan produk minuman wedang berbahan rumput laut yang dipadukan dengan serai, jahe, dan gula, serta produk cokelat turut dikembangkan.
Ketua Poklahsar Jaya Samudera Desa Bondo, Sri Hartini Putrahani Lukitanusari (49), mengatakan usaha pengolahan rumput laut mulai dirintis pada 2022. Ide tersebut muncul saat harga rumput laut hasil panen petani kerap turun ketika musim panen tiba.
“Awalnya karena saat panen raya harga rumput laut sering turun. Kami berpikir bagaimana caranya hasil panen ini punya nilai tambah, sehingga tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi makanan,” ujarnya kepada Joglo Jateng saat ditemui di Bondo, Senin (8/6/2026).
Kelompok yang dipimpinnya beranggotakan 20 orang. Sebanyak 15 anggota aktif menjalankan usaha pengolahan, sementara lima lainnya berprofesi lain yang hanya sesekali terlibat dalam kegiatan produksi. Mayoritas anggota merupakan istri para pembudidaya rumput laut. Dari dapur-dapur sederhana itulah berbagai inovasi produk lahir dan perlahan mulai dikenal masyarakat.
“Ada delapan produk yang kami hasilkan. Tapi, wedang dan cokelat saat ini masih dalam proses pengurusan sertifikasi halal. Yang lainnya sudah dipasarkan,” sebutnya.
Menurut Lukita, rumput laut memiliki karakteristik unik saat dicampurkan ke dalam adonan makanan. Selain memberikan tekstur lebih kenyal, rumput laut juga membuat produk menjadi lebih renyah.
Sebelum diolah, rumput laut harus melalui serangkaian proses yang cukup panjang. Setelah dipanen, rumput laut dibersihkan lalu dijemur hingga kering.
Proses berikutnya adalah perendaman untuk menghilangkan zat warna dan kandungan garam berlebih hingga benar-benar bersih. Untuk bahan konsumsi, kandungan garam tersebut kembali dihilangkan melalui proses pencucian dan perendaman sebelum akhirnya digunakan sebagai bahan baku berbagai produk makanan.
“Penjemuran yang bagus sekitar tiga hari penuh dengan sinar matahari. Kalau sudah kering sempurna, rumput laut bisa disimpan sampai bertahun-tahun karena kandungan garamnya masih menjaga kualitasnya,” jelasnya.
Meski margin keuntungan setiap produk rata-rata hanya sekitar 10 persen, Lukita mengaku, hasilnya cukup menjanjikan apabila produksi dilakukan secara berkelanjutan.
“Alhamdulillah bisa jadi penghasilan tambahan bagi kami. Kalau produknya dibudidaya terus, untungnya bisa konsisten,” ujarnya.
Pemasaran produk selama ini ditaruh di Gerai Dekranasda Jepara serta toko oleh-oleh setempat. Tak sedikit pula, ketika terdapat mahasiswa yang sedang melakukan penelitian di Pesisir Bondo, mereka membawa produk olahan rumput laut Bondo sebagai buah tangan.
“Karena tempat kami sering dijadikan penelitian. Ada mahasiswa asing yang membawa oleh-oleh dan dibawa hingga ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, hingga Jepang,” ujarnya.
Sementara untuk pemasaran online, dilakukan melalui media sosial. Produk-produk olahan tersebut dipromosikan melalui akun TikTok @dheluqi2 serta Instagram @dheluqi.official dan @browla.bondobeach.
Sebelumnya, Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menyampaikan Pemkab Jepara mendukung penuh upaya masyarakat pesisir dalam meningkatkan kesejahteraan.
Ia memproyeksikan, kawasan pesisir Bondo akan dijadikan sebagai sentra penghasil rumput laut di Jepara karena luas lahannya mencapai 20 hektare dan masih bisa diperluas.
“Pemkab Jepara siap mendukung upaya perluasan budidaya rumput laut tersebut. Nantinya, kami akan menjalin komunikasi dengan pusat,” pungkasnya. (oka/gih/rds)










