Ia menambahkan, gambar dan bahasa tubuh menjadi sarana komunikasi yang bersifat universal sehingga pesan yang disampaikan tetap dapat diterima dengan baik oleh siswa.
“Kalau gambar itu lebih universal. Bahkan sebenarnya bahasa tubuh juga menjadi alat komunikasi yang sangat membantu ketika ada perbedaan bahasa. Dengan bahasa tubuh, komunikasi tetap bisa terjalin,” tambahnya.
Meski hanya berlangsung sekitar satu jam, kegiatan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi para siswa. Mereka tampak aktif mengikuti arahan pengajar dan berani mencoba mengucapkan berbagai kosakata baru dalam bahasa Inggris.
“Sangat excited, sangat senang. Ini merupakan pengalaman baru bagi mereka,” ungkapnya.
“Anak-anak terlihat antusias dari awal sampai akhir kegiatan,” tambahnya.
Menurutnya, interaksi langsung dengan penutur asing menjadi salah satu cara efektif untuk menumbuhkan rasa percaya diri siswa dalam belajar bahasa Inggris.
Selain memperoleh tambahan pengetahuan, siswa juga mendapatkan wawasan baru mengenai perbedaan budaya dan cara berkomunikasi dengan masyarakat internasional. (uma/fat/rds)










