Kudus  

Kisah Subadi, Kusir Delman Balai Jagong Kudus yang Bertahan di Tengah Sepinya Penumpang

SEMANGAT: Subadi bersama kudanya tengah bersiap menjalankan profesinya sebagai kusir delman wisata di kawasan Balai Jagong Kudus, belum lama ini. (UMI ZAKIATUN N/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Derap kaki kuda masih sesekali terdengar di kawasan Balai Jagong, Kudus. Di tengah gempuran transportasi modern, Subadi (62), warga Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, tetap setia menjalani profesinya sebagai kusir delman wisata.

Sudah puluhan tahun Subadi menggantungkan hidup dari delman. Namun, kondisi saat ini jauh berbeda dibanding masa kejayaannya dahulu. Jika dulu penumpang cukup ramai hingga ia memiliki dua ekor kuda, kini hanya tersisa satu ekor yang menemaninya mencari nafkah.

“Dulu punya dua kuda. Kalau yang satu capek, gantian yang satunya jalan. Sekarang satu saja karena sudah jarang ada penumpang,” ujarnya.

Setiap hari, Subadi harus menyiapkan pakan untuk kudanya. Biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 40 ribu per hari untuk dedak dan kebutuhan pakan lainnya. Menurutnya, merawat kuda bukan perkara mudah karena kondisi hewan harus selalu diperhatikan.

“Kuda itu kalau capek ya tidak mau jalan atau jalannya pelan. Jadi harus benar-benar dirawat,” katanya.

Saat ini, Subadi lebih sering mangkal di kawasan GOR Balai Jagong. Untuk beroperasi di lokasi tersebut, ia membayar retribusi sebesar Rp 15 ribu. Selain menunggu penumpang wisata, ia juga menerima pesanan delman untuk acara hajatan seperti pernikahan dan sunatan.

Pendapatan yang diperoleh pun tidak menentu. Pada momen ramai, ia bisa membawa pulang sekitar Rp 150 ribu lebih dalam sehari. Namun, tidak jarang delmannya sama sekali tidak mendapatkan penumpang.

“Kadang ramai, kadang ya tidak ada sama sekali,” tuturnya.

Di sela-sela aktivitas sebagai kusir delman, Subadi juga mengurus sapi peliharaannya di rumah. Baginya, pekerjaan tersebut menjadi cara untuk menambah penghasilan sekaligus mengisi waktu ketika delman sedang sepi peminat.

Meski penghasilan tak lagi sebesar dulu, Subadi memilih bertahan. Baginya, delman bukan sekadar alat transportasi, melainkan bagian dari kehidupan yang telah dijalani selama bertahun-tahun. Di tengah perubahan zaman, ia tetap menjaga tradisi agar suara derap kuda masih bisa dinikmati masyarakat Kudus. (umi/iza/rds)