Di sisi lain, penggunaan pupuk organik masih minim. Dari alokasi 50 ribu kilogram, hingga kini belum ada realisasi penyaluran.
Kondisi serupa juga terjadi pada pupuk NPK kakao.
Mudhofir menilai, petani masih lebih banyak memilih pupuk kimia karena dinilai mampu mempercepat pertumbuhan tanaman.
“Biasanya yang memakai pupuk organik ini petani milenial, mereka rata-rata menanam jenis tanaman hortikultura,” katanya.
Ia menyebut, kendala yang masih sering ditemui bukan pada alokasi pupuk, melainkan waktu kedatangan barang yang terkadang tidak sebanding dengan tingginya kebutuhan saat musim tanam.
“Karena pada saat musim tanam serentak, barang datang langsung habis. Untuk melayani lagi itu kan butuh pengajuan, sehingga di kalangan petani berpikir pupuknya tidak ada,” jelasnya.
“Itu yang masih jadi kendala,” pungkasnya. (oka/gih/rds)










