SEMARANG, Joglo Jateng – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, mengakui kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi berpotensi memicu tekanan inflasi melalui peningkatan biaya distribusi dan produksi.
Namun, menurutnya dampak tersebut masih dapat diantisipasi melalui berbagai kebijakan moneter yang telah disiapkan oleh Bank Indonesia.
“Kalau kenaikan BBM potensinya memang ada karena ada efek tidak langsung ke biaya distribusi dan biaya produksi juga naik, tapi mudah-mudahan bisa diantisipasi dengan berbagai langkah yang kita lakukan,” ujarnya seusai menghadiri Rapat Koordinasi TPID dan Temu Bisnis Kerja Sama Antardaerah Intra Provinsi Jawa Tengah di Gradhika Bhakti Praja, Semarang.
Sebagai langkah antisipasi, Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur, Selasa (9/6/2026), memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Di sisi lain, Pertamina menyatakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan sesuai formula pemerintah.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, mengatakan konsumsi BBM masyarakat di wilayah Jawa Bagian Tengah masih didominasi produk subsidi dan penugasan yang tidak mengalami penyesuaian harga.

Oleh karena itu, dampak kenaikan BBM nonsubsidi dinilai relatif terbatas.
“Tercatat hingga Juni 2026, mayoritas konsumsi BBM masyarakat di wilayah Jawa Bagian Tengah masih didominasi oleh produk subsidi dan penugasan yang tidak mengalami perubahan harga,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Rabu (10/6/2026).
Data Pertamina menunjukkan konsumsi Pertalite mencapai 73,3 persen dari total konsumsi gasoline di Jawa Bagian Tengah, sedangkan Pertamax sebesar 25,9 persen. Adapun Pertamax Turbo dan Pertamax Green secara gabungan hanya sekitar 0,9 persen.
Sementara pada segmen gasoil, Biosolar mendominasi konsumsi hingga 96,6 persen, sedangkan Dexlite dan Pertamina Dex hanya sekitar 3,4 persen.
Per Rabu (10/6/2026), harga Pertamax naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter dan Pertamax Green 95 menjadi Rp 17.000 per liter.
Sementara Pertalite tetap Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter sehingga masih menjadi pilihan mayoritas masyarakat Jawa Tengah. (hfh/iza/rds)










