UIN Walisongo Kukuhkan 2.655 Guru Profesional

Suasana pengukuhan 2.655 peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagai guru profesional di UIN Walisongo Semarang, Sabtu (27/6/2026). (HUMAS/JOGLO JATENG)

Rektor UIN Walisongo Semarang, Musahadi menempatkan pengukuhan ini dalam konteks peradaban yang lebih luas. Ia mengingatkan bahwa profesionalisme seorang guru tidak cukup hanya dibuktikan selembar sertifikat.

Di era modern ini, guru memiliki peran besar sebagai penjaga peradaban. Sekaligus pembentuk karakter dan motor penggerak perubahan sosial.

“UIN Walisongo berkomitmen penuh untuk menyiapkan guru yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga kokoh secara moral dan kuat secara karakter,” tegasnya.

Musahadi menyebut, saat ini guru dihadapkan pada tantangan teknologi, disrupsi informasi, perubahan sosial, serta persoalan generasi muda yang kian kompleks.

“Karena itu, lulusan PPG harus mampu menghadirkan pembelajaran yang bermutu, inklusif, dan berkeadilan,” imbuhnya.

Guru masa kini tidak boleh sekadar mentransfer pengetahuan atau mengikuti perubahan. Namun harus menginspirasi, menanamkan nilai luhur, dan menjadi penentu arah perubahan.

Langkah besar program PPG ini berhasil diwujudkan berkat kolaborasi erat. Yakni melalui pembiayaan APBN dan APBD antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi.

Pesan penguatan ini selaras dengan arah kebijakan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama RI.

Dalam cetak biru peningkatan mutu pendidikan madrasah, terdapat tiga agenda utama. Yakni guru harus disejahterakan, diperkuat kompetensinya, dan didukung penuh melalui layanan digital.

Sinergi ini krusial karena kualitas pendidikan sebuah bangsa berbanding lurus dengan mutu para gurunya. Peserta didik mustahil mencapai kompetensi tinggi jika gurunya tidak diberi ruang berkembang.

Oleh sebab itu, program peningkatan kualifikasi, sertifikasi, serta keprofesian berkelanjutan berbasis digital kini terus dikebut.

Sebagai ujung tombak pembelajaran, guru hari ini dituntut adaptif menghadapi kebutuhan siswa yang makin beragam. Termasuk penguatan literasi, numerasi, pendidikan inklusif, dan kemampuan digital.

Pengukuhan di UIN Walisongo hari ini menjadi pengingat bahwa sejatinya pendidikan tidak hidup di atas kertas kebijakan semata.

Pendidikan itu hidup dan berdenyut di dalam ruang-ruang kelas melalui guru yang mengajar dengan sabar dan menegur dengan bijak.

Kini, 2.655 guru profesional baru siap kembali ke daerah masing-masing, membawa tanggung jawab memperbaiki mutu pendidikan Indonesia. (hms/rds)