Tren Penularan HIV di Jateng Kini Bergeser ke Kelompok LSL

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab. (HAFIFAH NUR CHASANAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah mengungkapkan adanya perubahan tren penularan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam lima tahun terakhir.

Jika sebelumnya penularan lebih banyak terjadi melalui hubungan heteroseksual, kini kasus baru didominasi kelompok laki-laki yang berhubungan seksual dengan sesama laki-laki (LSL).

Kepala Dinkes Provinsi Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab mengatakan, secara keseluruhan jumlah kasus HIV di Jawa Tengah menunjukkan kecenderungan menurun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, jumlah kasus baru HIV/AIDS pada 2024 tercatat sebanyak 6.509 kasus, kemudian turun menjadi 6.222 kasus pada 2025.

Sementara hingga Januari-Mei 2026, Dinkes Provinsi Jawa Tengah telah mencatat ratusan kasus baru yang tersebar di sejumlah daerah.

“Jumlah kasus sebenarnya menurun. Yang berubah adalah pola penularannya, dari hubungan heteroseksual bergeser menjadi laki suka laki,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (28/6/2026).

Zulfachmi menjelaskan, pergeseran pola penularan tersebut mulai terlihat dalam kurun waktu sekitar lima tahun terakhir.

Kelompok usia produktif, terutama rentang 20 hingga 40 tahun, menjadi kelompok yang paling banyak ditemukan dalam kasus baru HIV sehingga membutuhkan penguatan edukasi mengenai perilaku hidup sehat.

“Tren pergeseran ini sudah terlihat sekitar lima tahun terakhir. Mayoritas terjadi pada usia produktif,” katanya.

Berdasarkan pendataan Dinkes Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang masih menjadi wilayah dengan temuan kasus baru HIV terbanyak sepanjang Januari hingga Mei 2026, yakni mencapai 225 kasus.

Selanjutnya disusul Kabupaten Banyumas sebanyak 107 kasus dan Kota Surakarta sebanyak 104 kasus.

Selain itu, sejumlah daerah seperti Kabupaten Pati dan Kabupaten Brebes juga masih menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengendalian HIV.

“Kota Semarang mencatat 225 kasus baru. Setelah itu Banyumas 107 kasus dan Kota Solo 104 kasus dari Januari sampai Mei 2026,” ungkapnya.