SEMARANG, Joglo Jateng – Pemadaman listrik bergilir yang sempat terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah dinilai berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Gangguan pasokan listrik tersebut tidak hanya menghambat aktivitas rumah tangga. Tetapi juga berpotensi mengganggu proses produksi pelaku usaha, terutama sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah, M. Noor Nugroho mengatakan, pemadaman listrik yang terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung selama beberapa jam berpotensi menghambat berbagai aktivitas produktif. Terutama yang bergantung pada pasokan energi listrik.
“Memang itu sesuatu yang merugikan. Kalau terjadi pada jam produktif tentu bisa mengganggu berbagai aktivitas, terutama yang membutuhkan pasokan listrik secara terus-menerus,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (26/6/2026).
Menurut Noor, dampak terbesar dirasakan pelaku usaha yang tidak memiliki sumber listrik cadangan. Saat listrik padam, proses produksi terhenti sehingga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi.
Kondisi tersebut berbeda dengan rumah sakit maupun fasilitas vital lainnya. Fasilitas tersebut umumnya telah memiliki generator set (genset) sebagai sumber energi alternatif.
“Yang pasti akan terganggu adalah proses produksi apabila pemadaman terjadi pada jam-jam produktif. UMKM maupun perusahaan yang tidak memiliki genset tentu akan lebih terdampak,” jelasnya.
Meski demikian, BI tidak memberikan penilaian terkait penyebab maupun penyelesaian persoalan pemadaman listrik. Mengingat hal tersebut berada di luar kewenangannya.
Namun, pihaknya menilai stabilitas pasokan energi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga aktivitas ekonomi daerah. Di tengah gangguan listrik tersebut, BI mencatat kinerja ekonomi Jawa Tengah secara umum masih menunjukkan tren positif.
Berbagai indikator pertumbuhan ekonomi tetap bergerak baik. Meski masyarakat masih menghadapi tekanan akibat kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Noor menuturkan, kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak kondisi tersebut adalah mereka yang memiliki penghasilan tetap. Kenaikan biaya hidup yang tidak diimbangi peningkatan pendapatan membuat daya beli kelompok ini semakin tertekan.
“Yang paling terdampak biasanya masyarakat yang penghasilannya tetap. Ketika harga-harga naik sementara pendapatan tidak berubah, beban ekonomi mereka menjadi lebih berat,” katanya. (hfh/iza/rds)










