Lebih jauh, Zulfachmi menjelaskan, meningkatnya proporsi kasus pada kelompok LSL dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya perilaku seksual berisiko yang menyebabkan peluang penularan virus menjadi lebih tinggi.
Ia menilai tantangan terbesar saat ini bukan lagi minimnya edukasi, melainkan perubahan gaya hidup masyarakat.
“Edukasi sebenarnya sudah berjalan. Tantangan terbesar sekarang adalah perubahan gaya hidup,” tegasnya.
Untuk menekan penyebaran HIV, Dinkes Provinsi Jawa Tengah terus mengintensifkan edukasi melalui pendekatan ABCDE.
Yakni abstinence (menghindari hubungan seksual berisiko), be faithful (setia kepada pasangan), penggunaan kondom, menghindari penyalahgunaan narkoba suntik, serta memastikan penggunaan alat kesehatan yang aman.
Upaya tersebut dibarengi dengan perluasan layanan deteksi dini dan pendampingan bagi kelompok berisiko.
Zulfachmi menambahkan, pasien HIV yang telah terdiagnosis harus menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara rutin sepanjang hidup untuk menekan jumlah virus di dalam tubuh.
Meski hingga kini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan HIV secara total, terapi tersebut terbukti mampu menjaga kualitas hidup pasien sekaligus menurunkan risiko penularan kepada orang lain.
“Obat ARV dapat menekan jumlah virus hingga sangat rendah, tetapi harus diminum seumur hidup karena HIV belum bisa disembuhkan secara total,” tandasnya. (hfh/gih/rds)










