SEMARANG, Joglo Jateng – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang, Iswar Aminuddin mengakui penanganan banjir di Kota Semarang cukup berat dilakukan. Pasalnya, ia melihat persoalan banjir berhubungan dengan lingkungan yang luas.
“Beban kita cukup berat apalagi Kota Semarang di hilir. Penanganan tidak hanya di hilir saja namun juga perlu penanganan di hulu. Agar kemudian debit yang terjadi tidak bertambah. Betapa frustrasinya kita ketika tahun ini perencanaan kita misalkan sekian liter per detik, ke depan dipastikan akan meningkat karena terjadi perubahan fungsi lahan yang tidak diukur kapasitas tampungan yang mereka harus lakukan. Karena terjadi run off,” ucapnya, belum lama ini.
Menurutnya, persoalan banjir di Kota Semarang memang harus dipandang lebih bijak lagi. Terlebih lagi, pemerintah tidak mampu mengatasinya sendiri karena ada banyak kepentingan.
Berdasarkan hasil kajian Pemkot Semarang, ada infiltrasi yang harus terjadi sebanyak 50 persen, evaporasi 35 persen, dan sisanya run off. Jika hal ini tidak sampai 100 persen, maka air banjir akan terus menurun ke wilayah bawah, tepatnya Kota Semarang dan sekitarnya.
“Nah ini harus kita siapkan agar kemudian secara ideal harus kita kembalikan. Kalau manajemen penambahan kapasitas oke lah kita perbuat untuk itu. Tapi kemudian betapa mahalnya kalau manajemen teknik yang kita butuhkan berhubungan dengan mindset masyarakat Kota Semarang,” jelasnya.
Sehingga, kata Iswar, apa yang dikhawatirkan oleh masyarakat 15 hingga 20 tahun kemudian tidak terjadi banjir lagi. Sebab, generasi saat ini yang akan meneruskan generasi berikutnya untuk tidak meninggalkan jejak beban. Seperti banjir, rob, maupun tanah longsor.
“Jadi kita harus melakukan sesuatu. Agar terjadi perubahan dan semua masyarakat dan stakeholder untuk kembali ke lingkungan. Agar biayanya tidak besar, kalau kita membangun infrastruktur, hari ini banjirnya 50 perdetik tahun depan akan bertambah dan bertambah lagi. Karena pompanya pasti bertambah kapasitas juga kita harus lebarkan,” terangnya.
Ia menjelaskan, boleh saja membangun infrastruktur. Namun hal itu tentu harus diperhatikan seperti seberapa luas lahan yang akan dikembangkan, serta perhitungan potensi banjir di wilayah tersebut.
“Kemudian kita buat manajemen pengelolaan air di setiap kawasan. Harus ada sebuah gerakan besar,” imbuhnya.
Adapun solusi yang telah diupayakan oleh Pemkot Semarang terkait penanganan banjir, salah satunya, pemanfaatan 43 rumah pompa yang menyebar di sejumlah titik wilayah. (int/adf)










