Jepara  

Pemkab Jepara Luncurkan Program J-Farming, Kembangkan Tanam Cabai Modern

SEMANGAT: Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar bersama Direktur Utama Perumda Aneka Usaha Jepara, Wike Dwi Utomo, dan jajaran saat menanam cabai di sawah Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Rabu (29/10). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng– Pemerintah Kabupaten Jepara mulai menyiapkan langkah nyata untuk memastikan sektor pertanian tetap berkelanjutan di masa depan. Melalui Perumda Aneka Usaha, Pemkab resmi meluncurkan program J-Farming, yang difokuskan pada pengembangan tanaman cabai dengan pendekatan modern. Peluncuran dilakukan di sawah Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Rabu (29/10).

Wakil Bupati Jepara, Muhammad Ibnu Hajar menyebut, program ini bukan sekadar inovasi pertanian, melainkan juga strategi untuk menumbuhkan minat generasi muda agar mau terlibat di dunia tani. Selain itu, langkah ini diharap menjadi langkah pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan dan mengendalikan inflasi.

“Hari ini kami meluncurkan program J-Farming. Tujuannya bukan hanya menggait kalangan petani senior, tapi juga anak-anak muda agar tertarik bertani. Ini bentuk modernisasi dalam penanaman cabai,” kata Ibnu Hajar.

Ia mengatakan, program tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Bupati Jepara yang baru, yang menekankan pentingnya fokus pada ketahanan pangan serta pemberdayaan ASN dan masyarakat melalui peran Perumda.

“Jepara ini sangat luas, hampir 100 ribu hektare, dan 75 persen di antaranya lahan kering. Karena itu, kami ingin memprioritaskan sektor ketahanan pangan, terutama komoditas cabai,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Utama Perumda Aneka Usaha Jepara, Wike Dwi Utomo, menjelaskan bahwa J-Farming merupakan konsep pertanian adaptif terhadap musim, dengan penerapan metode tanam yang disesuaikan kondisi iklim dan curah hujan.

“Kami mencoba melakukan rekayasa metode tanam agar bisa beradaptasi dengan musim. Jadi bukan sekadar terobosan baru, tapi adaptasi musim dengan konsep yang lebih modern,” jelas Wike.

Ia menuturkan, tahap awal program ini dijalankan di lahan seluas 8.500 meter persegi melalui kerja sama dengan Bumdes Kecapi dengan sistem bagi hasil 50:50. Lokasi pengembangan lain juga disiapkan di Suwawal Barat, Suwawal Timur, Balong, dan Batealit.