Inovasi Dinsos Jateng: Ubah 6,8 Hektar Lahan Panti Jadi Ajang Rehabilitasi Berbasis Lingkungan

CARE PASTI PAS Bawa Semangat Baru

SUASANA : Peluncuran program "CARE PASTI PAS" di Aula Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah. Kamis (30/10/2025). (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

LANGKAH inovatif kembali diambil oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan kinerja dan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Melalui program baru bertajuk “CARE PASTI PAS”, Dinsos Jateng memperkenalkan sistem kerja yang menekankan pelayanan cepat, akurat, dan terintegrasi di bidang sosial.

Program ini resmi diluncurkan pada Kamis (30/10/2025) di Aula Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, bertepatan dengan kegiatan Monitoring dan Persiapan Pelaporan Capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Sosial Tahun 2025.

Acara yang dibuka secara resmi oleh Kabid Rehabsos Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, Isriadi Widodo, Aks, ini dihadiri oleh jajaran Dinas Sosial serta perwakilan dari Dinas Sosial Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah.

Program “CARE PASTI PAS” yang merupakan akronim dari “CARing systEm PAda proseS rehabiliTasi SosIal di Panti berbAsis komunitaS”, digagas oleh Kepala Panti Pelayanan Sosial Pengemis Gelandangan dan Orang Terlantar (PPS PGOT) “Mardi Utomo” Semarang, Elliya Chariroh.

Ide ini berfokus pada peningkatan kepedulian terhadap lingkungan alam dan sosial di dalam panti. Dengan luas area Panti Mardi Utomo yang mencapai hampir 6,8 Hektar, pengelolaan lingkungan yang tepat dan berkelanjutan dinilai sangat penting.

“Program ini mendorong penerima manfaat (klien panti) untuk peduli dan sadar terhadap lingkungan, mencakup aspek kebersihan yang terkait pengelolaan sampah, penghijauan dengan penanaman TOGA (Tanaman Obat Keluarga) dan ketahanan pangan, serta keamanan lingkungan,” papar Elliya.

Untuk mewujudkannya, penerima manfaat diorganisir ke dalam komunitas dengan struktur organisasi layaknya masyarakat pada umumnya. Melalui komunitas ini, mereka tidak hanya mengelola lingkungan, tetapi juga mendapatkan pembelajaran, pengetahuan, dan penyiapan mental untuk kehidupan purna bina nanti.

“Dalam hal pengelolaan sampah, mereka didorong untuk membentuk dan mengelola bank sampah secara mandiri. Sementara untuk penghijauan dan keamanan, mereka dilibatkan secara aktif agar tercipta lingkungan yang indah, tertib, dan nyaman,” tambah Elliya.

Melalui layanan ini diharapkan dapat tercipta pengurangan sampah yang signifikan, lingkungan yang lebih sehat, kondusif, dan nyaman bagi seluruh penghuni panti. Ke depan, program ini diharapkan dapat menjadi model yang direplikasi oleh panti sejenis lainnya, lingkungan perkantoran, dan bahkan masyarakat luas, sebagai wujud nyata rehabilitasi sosial yang memberdayakan dan berkelanjutan. (luk/iza)