PURWOREJO, Joglo Jateng – Suasana riuh dan penuh keceriaan tergambar jelas di gang sempit RT 1 RW 12, Kampung Pandekluwih, Kecamatan Purworejo. Ratusan anak yang memadati lokasi dengan balutan busana serba merah tampak antusias melompat untuk mengikuti tradisi rebutan angpao pada hari pertama Tahun Baru Imlek 2577, Selasa (17/2/26).
Pemandangan dalam perayaan Imlek Purworejo kali ini terasa sangat istimewa. Pasalnya, tradisi berbagi rezeki tersebut tidak hanya diikuti oleh warga Tionghoa, melainkan turut dimeriahkan oleh anak-anak non-Tionghoa di lingkungan sekitar.
Kegiatan tahunan yang digagas oleh warga Suku Tionghoa setempat ini telah menjelma menjadi simbol kuatnya rajutan toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Purworejo.
Miniatur Keberagaman Purworejo
Tokoh Tionghoa Kampung Pandekluwih, Sudrajat atau yang akrab disapa Li Un Yang menjelaskan, tradisi ini adalah wujud nyata kebersamaan warga yang telah hidup membaur secara demokratis tanpa sekat ras dan agama.
“Kurang lebih ada sekitar 400 angpao yang digantung. Isinya bervariasi mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu. Di kampung ini warganya campur dan sangat demokratis, tidak hanya kalangan Tionghoa, semuanya membaur jadi satu,” tuturnya.
Ia menambahkan, perayaan Imlek yang bertepatan dengan Tahun Kuda Api ini membawa pesan filosofis tentang kerja keras, kekuatan, dan semangat pantang menyerah.
“Dalam kegiatan ini kita tidak memandang agama maupun ras. Harapannya, Imlek tahun Kuda Api ini membawa kemakmuran, kesejahteraan, dan kesehatan bagi seluruh warga, khususnya di Purworejo,” harap Sudrajat.










