SD 6 Klumpit Kudus Rayakan Kartini Lewat Lomba Fashion Show dan Seni

RAYAKAN: Para siswa SD 6 Klumpit bersama guru mengenakan busana adat Nusantara untuk memperingati Hari Kartini, Rabu (23/4/2026). (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Suasana meriah dan penuh warna menyelimuti halaman SD 6 Klumpit saat menggelar berbagai perlombaan untuk memperingati Hari Kartini pada Rabu (23/4/2026). Kegiatan ini menjadi wadah edukasi strategis untuk menanamkan nilai kesetaraan gender sejak dini, sekaligus mempererat sinergi antara pihak sekolah dan wali murid.

Kepala SD 6 Klumpit, Jamaludin Syariful Firdaus menjelaskan, perayaan tahun ini memang sengaja diundur dua hari dari tanggal resmi 21 April. Kebijakan penyesuaian jadwal ini diambil lantaran bertepatan dengan agenda Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa kelas VI.

Hal tersebut dilakukan agar seluruh siswa dapat berpartisipasi penuh tanpa mengganggu kewajiban akademik mereka. Berbagai ajang kreativitas pun digelar, mulai dari fashion show putra-putri, lomba menyanyi, hingga lomba menghias ala Ibu Kartini.

“Bapak ibu guru juga ikut meramaikan, bukan hanya siswa saja. Ini bagian dari kebersamaan,” ungkap Jamaludin.

Sinergi Wali Murid dan Edukasi Kesetaraan Gender

Dalam balutan busana adat Nusantara, para siswa tampil penuh percaya diri. Siswa perempuan tampak anggun mengenakan kebaya, sementara siswa laki-laki mengenakan pakaian adat khas daerah lengkap dengan blangkon.

Antusiasme tidak hanya datang dari siswa, tetapi juga dari para wali murid yang berbondong-bondong hadir menyaksikan penampilan anak-anak mereka. Kehadiran orang tua ini menjadi indikator kuat keberhasilan sekolah dalam merangkul lingkungan keluarga.

“Tujuannya memupuk kebersamaan dan kekeluargaan. Biar ada sinergi antara wali murid, guru, dan siswa, sehingga hubungan berjalan seimbang,” paparnya.

Lebih jauh, pihak sekolah memanfaatkan momentum ini untuk menyampaikan pesan penting tentang kesetaraan gender di era modern. Nilai-nilai perjuangan Raden Ajeng Kartini tidak hanya dimaknai sebatas perayaan seremonial semata.

“Di momen Kartini ini, kita tekankan bahwa kesetaraan gender itu penting. Sekarang sudah banyak perubahan, perempuan bisa bekerja, laki-laki juga bisa mengambil peran di rumah. Intinya saling menghargai,” pungkasnya. (uma/fat/rds)